WAHANANEWS.CO - Keuskupan Agung Merauke melalui Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) menggelar seminar kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), digitalisasi media sosial, dan filsafat pendidikan bagi guru dan kepala sekolah di Papua Selatan.
Seminar yang berlangsung di Rumah Bina Pankat, Kelapa Lima, Merauke, pada 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 itu diikuti lebih dari 460 guru dan sekitar 40 kepala sekolah jenjang PAUD hingga SMA.
Baca Juga:
Keluarga Besar PWI Jambi Berduka, Hery Rawas Mantan Sekretaris PWI Jambi Tutup Usia
Peserta berasal dari 52 perwakilan satuan pendidikan di bawah YPPK Keuskupan Agung Merauke, termasuk sekolah-sekolah di sejumlah wilayah pelosok Papua Selatan.
Kegiatan mengusung tema “Pelatihan AI, Coding, serta Penguatan Esensi Dasar Pendidikan.”
Seminar dibuka Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Selatan yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Akademik Komunitas, Oliva Koneng.
Baca Juga:
Gubsu Bobby Kunjungi Sekolah dan Tinjau Pembangunan Jalan di Nias Utara
Hadir dalam pembukaan Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke RD Alowisius Kelbulan, pemateri AI RD Christy Mahendra serta anggota YPPK Richard Dumatubun.
Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke RD Alowisius Kelbulan mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi, khususnya AI dan media sosial.
“Melihat antusias para guru dalam seminar ini, terutama topik AI bagi pembelajaran sekolah dan dampak media sosial bagi dunia pendidikan, kami merencanakan untuk melanjutkan seminar serupa ke lebih banyak sekolah di wilayah-wilayah pelosok Papua Selatan,” kata Kelbulan.
Guru Diperkenalkan Koding dan AI
Dalam seminar tersebut, para guru mendapatkan materi mengenai koding serta perkembangan teknologi AI.
Materi disampaikan RD Christy Mahendra, dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Yos Sudarso, Purwokerto.
Materi mencakup sejarah perkembangan AI, expert system, machine learning, big data, deep learning, hingga generative AI.
Para guru juga diperkenalkan dengan sejumlah bahasa pemrograman yang digunakan dalam pengembangan teknologi AI, antara lain C, C++, C#, Python, PHP, JavaScript, Node.js, dan R.
Peserta mempelajari cara kerja AI, mulai dari pengolahan data, pelatihan model, penggunaan algoritma machine learning, hingga menghasilkan prediksi.
Selain itu, seminar membahas perkembangan large language model (LLM), agentic AI, serta tren teknologi AI.
Materi tersebut diarahkan agar guru mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sekaligus mengenalkan kemampuan berpikir komputasional kepada siswa.
Aspek etika digital juga menjadi bagian penting dalam seminar. Para guru dibekali pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Filsafat Pendidikan
Selain teknologi, seminar juga membahas hakikat pendidikan melalui perspektif filsafat yang dibawakan oleh Dr. Frits H. Pangemanan, M.Sc, Dosen dan Kepala Pusat Publikasi Ilmiah Institut Ilmu-Ilmu Sosial Asia (Asian Social Insitute) Manila, juga Pengamat Sosial dan Pendidikan.
Dr. Frits H. Pangemanan mengangkat pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles untuk mengajak para guru memahami kembali peran pendidik dalam proses pembelajaran.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam kebijakan pendidikan nasional.
Dalam perspektif filsafat pendidikan, kata Pengamat Sosial dan Pendidikan itu, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengenali diri, membangun karakter, dan mengembangkan moralitas.
Para peserta juga diajak melihat tantangan profesi guru di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial.
"Akses informasi yang semakin luas membuat siswa memiliki sumber belajar yang beragam. Kondisi tersebut menuntut guru untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar tetap relevan dalam mendampingi peserta didik," kata pungkas yang juga penulis Buku 50 Tahun Imamat Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC itu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Sejalan Piagam Sinodal
Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke menyebut seminar tersebut sejalan dengan Piagam Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia hasil Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik (KOSDIK II) yang berlangsung pada 24–26 Juni 2026 di Jakarta.
Piagam tersebut mendorong Lembaga Pendidikan Katolik untuk menyikapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan secara serius.
Pendidikan di era digital, menurut YPPK, tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan teknologi. Guru dan siswa juga perlu memiliki kebijaksanaan, tanggung jawab moral, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran terhadap dampak penggunaan teknologi.
Puncak HUT ke-63 SMA St. Yoanes XXIII
Rangkaian seminar dipuncaki dengan perayaan HUT ke-63 SMA St. Yoanes XXIII Merauke pada 1 Agustus 2026.
Perayaan diawali dengan Misa di Gereja Katedral Merauke dan dilanjutkan dengan ramah tamah di kompleks SMA St. Yoanes XXIII.
SMA St. Yoanes XXIII berdiri pada 1 Agustus 1963 dan dikenal sebagai SMA pertama di wilayah Papua Selatan.
Sekolah tersebut berdiri dua tahun setelah Vikariat Apostolik Merauke berubah status menjadi Keuskupan Agung Merauke pada 15 November 1961 di bawah kepemimpinan Mgr. Herman Tillemans, MSC.
SMA St. Yoanes XXIII mengusung semboyan “Widyatama”, yang dimaknai sebagai ilmu pengetahuan utama dan insan pendidikan yang berilmu serta memiliki keutamaan luhur.
Perayaan HUT ke-63 semakin istimewa karena sekolah tersebut meraih juara umum tingkat SMA se-Kabupaten Merauke.
Prestasi itu diraih melalui ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Festival dan Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Sebanyak delapan siswa SMA St. Yoanes XXIII lolos dalam OSN bidang Astronomi, Biologi, Ekonomi, Geografi, Kebumian, dan Matematika. Sementara satu siswa lolos pada FLS3N bidang Penulisan Cerpen.
Pada tingkat Provinsi Papua Selatan, dua siswa berhasil meraih juara OSN. Levaneyckha Guevara Lefteuw menjadi juara bidang Ekonomi, sedangkan Grace Natalia Priciliya Apitulay meraih juara bidang Biologi.
Keduanya berhak mengikuti babak semifinal tingkat nasional pada 2026.
Sementara itu, pada FLS3N bidang Penulisan Cerpen, siswa SMA St. Yoanes XXIII meraih posisi kedua tingkat Provinsi Papua Selatan.
Perayaan HUT ke-63 SMA St. Yoanes XXIII menjadi penutup rangkaian kegiatan sekaligus momentum bagi YPPK Keuskupan Agung Merauke untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui penguasaan teknologi dan penguatan karakter.
Kegiatan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara kemampuan digital dan nilai kemanusiaan dalam mempersiapkan generasi muda Papua Selatan menghadapi perkembangan zaman.