WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelap tak dibiarkan berlarut di Aceh Tengah setelah banjir bandang dan longsor memutus infrastruktur listrik, karena PLN UID Aceh bergerak cepat menyalurkan pasokan darurat hingga desa-desa terdampak terparah.
PLN UID Aceh terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Kementerian ESDM dalam upaya pemulihan kelistrikan pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada Rabu (7/01/2025).
Baca Juga:
PLN Terobos Akses Terputus, Listrik Posko Pengungsian Pante Bidari Aceh Kembali Menyala
Sebagai langkah cepat tanggap darurat, PLN memastikan pasokan listrik sementara telah berhasil didistribusikan ke 44 desa dengan tingkat kerusakan infrastruktur paling parah melalui dukungan genset agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Alhamdulillah, saat ini desa di wilayah kami yang terdampak longsor dan banjir kini sudah terang karena telah menerima distribusi bantuan genset untuk kebutuhan kelistrikan masyarakat. Ini solusi konkret yang sangat kami butuhkan,” ujar Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, saat meninjau langsung lokasi terdampak.
“Terima kasih kepada rekan-rekan PLN yang tanpa lelah telah berjuang menerangi warga kami di tengah bencana. Satu per satu, wilayah terdampak kini mulai pulih,” sambung Haili Yoga mengapresiasi kerja cepat PLN.
Baca Juga:
Sistem Listrik Aceh Kembali Normal, PLN Evaluasi Ketahanan Infrastruktur Pascabencana
“Kami pastikan bahwa meskipun jaringan utama belum pulih, pasokan listrik di desa-desa tersebut tetap tersedia secara darurat,” tegas Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, menanggapi informasi yang beredar di masyarakat.
“Listrik sudah hadir kembali untuk penerangan warga di malam hari dan kebutuhan dasar, sembari petugas kami bersiaga di perbatasan area longsor untuk segera masuk memperbaiki tiang begitu jalan bisa dilalui,” tambah Lukman Hakim.
Langkah darurat ini menegaskan komitmen PLN agar masyarakat tidak berlama-lama berada dalam kegelapan, meskipun proses pemulihan jaringan permanen masih menghadapi tantangan akses medan yang ekstrem.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]