WAHANANEWS.CO, Jakarta - Saat hujan lebat tak henti mengguyur Aceh pada akhir November 2025, air bah dan tanah longsor merendam ratusan desa, merusak infrastruktur, memutus akses jalan dan meredupkan harapan di banyak sudut negeri.
Dalam hitungan jam, banjir bandang itu mengubah lanskap: jembatan ambruk, jalan tertutup lumpur, dan jaringan listrik putus total. Ribuan warga terisolasi, tanpa listrik, tanpa komunikasi, bahkan untuk sekadar melihat matahari terbit di pagi hari.
Baca Juga:
Pemulihan 98 Persen, PLN Pastikan Instalasi Listrik Warga Aceh Tamiang Aman
Di tengah tantangan luar biasa itu, langkah-langkah PLN (Perusahaan Listrik Negara) menjadi bagian dari kisah heroik yang jarang terungkap.
Ketika desa-desa yang terendam masih bergulat dengan kondisi jalan yang hancur dan tanah licin, tim PLN terus bergerak menembus rawa, bukit, dan hutan untuk menyambungkan kembali nyala listrik.
Bagi mereka, misi itu bukan sekedar pekerjaan teknis, tetapi sebuah janji: tidak ada satu pun desa yang tertinggal dalam gelap.
Baca Juga:
Listrik di Riung Barat Padam Tiga Hari Berturut-Turut, Bosco Ponong Soroti Kinerja PLN
PLN mencatat pemulihan jaringan listrik di banyak wilayah telah menunjukkan kemajuan. Sistem kelistrikan utama di Aceh telah pulih hingga puluhan persen, dan lebih dari 6.425 desa telah kembali terang pada pertengahan Desember 2025.
Namun, masih ada puluhan desa terakhir yang tetap padam, yakni mereka yang berada di titik paling jauh dan paling menantang medan jalannya.
“Sejak banjir kemarin, jalan ke desa kami benar-benar rusak. Ada yang tertutup longsor, ada juga yang penuh lumpur, susah dilewati. Kami sempat tidak yakin listrik bisa cepat menyala lagi. Tapi petugas PLN tetap datang, meski jalannya berat. Mereka tetap berusaha masuk ke desa kami,” ujar Yuliandi (32),warga setempat.
Menurutnya, kehadiran petugas PLN di tengah kondisi sulit tersebut memberi harapan bagi masyarakat yang sempat terisolasi.
Di saat aktivitas belum sepenuhnya pulih, upaya mereka menembus medan berat dinilai sebagai bukti bahwa warga di desa terpencil tidak ditinggalkan dalam situasi bencana.
Kerja keras ini didukung oleh sinergi luar biasa antara PLN dengan berbagai instansi.
Kolaborasi dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga relawan lokal turut membuka akses jalan dan mempercepat pemulihan infrastruktur agar aliran listrik dapat segera dinikmati masyarakat.
Di beberapa titik, personel PLN bahkan harus dibantu helikopter untuk menjangkau area yang benar-benar terputus dari dunia luar.
Lebih dari 500 personel dikerahkan ke lokasi-lokasi tower yang rusak untuk mengganti atau memperbaiki jaringan transmisi yang roboh akibat banjir dan longsor.
Perjuangan itu bukan sekedar soal kabel dan gardu listrik. Bagi warga di desa tertinggal, nyala lampu di rumah bukan hanya soal kenyamanan.
Ini adalah tanda hidup yang kembali normal, tanda anak-anak bisa belajar malam hari, dan ladang ekonomi serta komunikasi dapat bergeliat kembali.
Ketika lumpur dan puing pelan-pelan dibersihkan, dan akses jalan mulai dibuka, satu per satu rumah, sekolah, dan fasilitas umum yang selama berminggu-minggu gelap tanpa listrik kini mulai bersinar kembali.
Itulah sinar harapan yang tumbuh kembali.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]