WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di daerah pelosok Aceh yang terendam banjir dan longsor akhir 2025, malam sering terasa lebih panjang. Jalanan berubah menjadi lumpur, jembatan putus, dan pepohonan tumbang menutup akses ke desa-desa terpencil.
Di tengah kondisi itu, sekumpulan pahlawan tak berseragam perang terus berjalan, menyalakan harapan satu per satu: tim gabungan 40 personel tangguh dari PLN Peureulak, PLN UIW Nusa Tenggara Timur, dan TNI.
Baca Juga:
Mobil Pajero Tabrak Pagar Mapolda Jambi, Pengemudi Positif Narkoba dan Miras
Mereka menapaki jalur sepanjang 40 kilometer, berjibaku hingga ke titik terjauh demi memastikan listrik menyala kembali.
Upaya ini bukan sekadar pekerjaan rutin. Di pedalaman seperti HTI Ranto Naro dan Simpang Jernih, seringkali personel harus melalui sungai dengan perahu kayu membawa tiang besi dan peralatan berat.
Mereka tahu medan yang dihadapi adalah tantangan luar biasa: jalan penuh lumpur, medan yang terputus, serta akses yang sering kali hanya bisa dilalui dengan mendaki bukit atau menyusuri sungai.
Baca Juga:
Menjemput Terang di Ujung Aceh, Kisah Perjuangan PLN ke Desa Terisolir
Namun semangat tetap menyala, seiring keyakinan bahwa terang adalah laju kehidupan.
“Saya tinggal di desa yang selama berminggu-minggu gelap. Waktu dengar mereka jalan dari jauh buat pasang listrik, rasanya lega sekali. Ya, desa ini seperti hidup kembali. Ada harapan,” ujar Ahmad (53), seorang warga yang menyaksikan tim PLN melintas melewati jalur licin di desanya.
Data terbaru Kementerian ESDM menyebut bahwa sejak bencana, lebih dari 776 ribu pelanggan di wilayah terdampak telah tersambung kembali ke listrik, meskipun masih terdapat sebagian pelanggan yang belum menikmati pasokan listrik penuh, akibat akses yang masih sulit.
Di tengah perjuangan itu, PLN bersama elemen TNI terus membuka jalur terpencil satu per satu.
Bagi warga desa, cahaya yang kembali menyala bukan sekadar listrik, tetapi kehidupan yang pulih.
Ketika lilin perlahan diganti lampu, ketika anak-anak bisa membaca malam hari, dan ketika televisi kembali memberi kabar dunia luar. Itu adalah momen yang tak ternilai.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]