WAHANANEWS.CO, Jakarta - Krisis bahan bakar yang melanda Rusia mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Lonjakan harga bensin dan solar akibat terganggunya pasokan membuat permintaan terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) asal China melonjak tajam, terutama di Moskow.
Melansir CNBC Indonesia, pendiri dealer EN Cars, Yevgeniy Zabelin, mengatakan permintaan kendaraan listrik meningkat drastis sejak pasokan bahan bakar bermasalah.
Baca Juga:
2 Pabrik Komponen Otomotif Jepang di RI Mau Cabut, Ribuan Pekerja Terancam
"Sejak situasi bahan bakar menjadi rumit, permintaan telah meningkat berkali-kali lipat," ujarnya kepada Reuters, dikutip Minggu (5/7/2026). Ia menambahkan minat konsumen naik baik untuk model listrik kelas ekonomis maupun premium.
Gangguan pasokan BBM dipicu oleh meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di SPBU, pembatasan distribusi bahan bakar di banyak wilayah, serta mendorong harga bensin eceran di sejumlah daerah mencapai level tertinggi di Eropa, menurut perhitungan Reuters.
Dampaknya langsung terasa di pasar otomotif. Zabelin mengungkapkan EN Cars yang fokus menjual merek-merek China kini mampu menjual dua hingga tiga unit kendaraan listrik setiap hari. Angka itu melonjak dibandingkan sebelumnya yang hanya berkisar dua hingga tiga unit per bulan.
Baca Juga:
PLN Mobile Hadirkan Kemudahan Akses SPKLU bagi Pengguna Kendaraan Listrik
Direktur Eksekutif lembaga riset Autostat, Sergei Udalov, mengatakan penjualan kendaraan listrik dan plug-in hybrid memang meningkat, tetapi ketersediaan stok masih menjadi kendala karena produsen dan importir tidak siap menghadapi lonjakan permintaan.
"Jika krisis bahan bakar terus berlanjut, penjualan akan tumbuh signifikan dalam waktu dekat dan China akan menjadi pihak yang paling diuntungkan," katanya.
Di tengah meningkatnya minat tersebut, merek-merek China mendominasi pasar kendaraan listrik Rusia. Berdasarkan data Autostat, model EV dan hybrid terlaris berasal dari Geely, Dongfeng, GAC, dan Chery. Sementara itu, model listrik buatan Rusia yang paling banyak terjual adalah Evolute, yang dirakit menggunakan kit dari Dongfeng.
Data Autostat dan Kementerian Perindustrian serta Perdagangan Rusia menunjukkan penjualan mobil plug-in hybrid mencapai 24.600 unit sepanjang Januari-Mei 2026, melonjak 125% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, penjualan mobil listrik murni naik 19% menjadi 4.460 unit. Kepala Autostat Sergei Tselikov juga mencatat sebanyak 1.754 plug-in hybrid baru didaftarkan pada pekan lalu, hampir 50% di atas rata-rata mingguan tahun ini seiring memburuknya krisis bahan bakar.
Meski demikian, penggunaan kendaraan listrik di Rusia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur pengisian daya, jarak antar kota yang sangat jauh, serta kondisi cuaca ekstrem. Layanan peta digital 2GIS mencatat jumlah stasiun pengisian daya memang meningkat 20% hingga Juli 2026, namun belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar.
Salah satu pemilik kendaraan listrik, Vasiliy, mengaku tidak terdampak krisis bahan bakar karena dapat mengisi daya mobilnya di rumah.
"Terutama dalam situasi saat ini, saya sama sekali tidak mengalami masalah," ujarnya. Namun, ia menilai tren lonjakan permintaan kendaraan listrik kemungkinan tidak akan berlangsung lama karena pengisian daya di Moskow masih menjadi tantangan bagi banyak pengguna.
[Redaktur: Alpredo Gultom]