WAHANANEWS.CO, Jakarta - Indonesia melontarkan kecaman keras terhadap Israel di forum tertinggi dunia, menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian PBB di Lebanon bukan sekadar insiden, melainkan ancaman serius bagi stabilitas global.
Dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Wakil Tetap RI untuk PBB Duta Besar Umar Hadi menyampaikan sikap tegas Indonesia atas eskalasi konflik yang terjadi di Lebanon selatan.
Baca Juga:
BMKG Prediksi Hujan Mulai Berkurang, Cuaca Indonesia Makin Panas
“Eskalasi saat ini tidak muncul dalam ruang hampa. Ini berasal dari serangan berulang oleh militer Israel ke wilayah Lebanon,” ujar Umar Hadi, (Selasa/31/03/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum resmi DK PBB yang membahas situasi keamanan pasca insiden penyerangan terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL.
“Indonesia mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan, yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon,” ucapnya lagi.
Baca Juga:
Menkes Ungkap Anomali BPJS, Masih Ada Orang Kaya Terima Bantuan PBI
Saat kecaman itu disampaikan dalam bahasa Inggris secara lantang, sorotan siaran langsung UN Web TV memperlihatkan Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon yang tampak sibuk memainkan gawainya.
Umar tetap melanjutkan pernyataannya dengan menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian bukanlah kejadian biasa, melainkan tindakan yang disengaja dan merusak mandat Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
“Serangan ini juga merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan dapat merupakan kejahatan perang di bawah hukum internasional. Oleh karena itu, kami menuntut penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan,” kata Umar.
Indonesia juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memastikan adanya pertanggungjawaban hukum terhadap pelaku, serta menegaskan bahwa impunitas tidak boleh menjadi norma dalam konflik bersenjata.
“Imunitas tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulang atau ditoleransi,” tuturnya.
Selain itu, Indonesia menyerukan kepada seluruh pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum internasional serta menghentikan tindakan yang membahayakan personel dan fasilitas PBB di lapangan.
“Kami membuat tuntutan ini sebagai referensi mendalam untuk pasukan penjaga perdamaian kami yang gugur, yang kepadanya Indonesia memberikan penghormatan tertinggi atas pengorbanan tertinggi mereka dalam melayani perdamaian dan keamanan internasional,” ucap Umar.
Komitmen Indonesia terhadap misi perdamaian dunia ditegaskan kembali sebagai bagian dari amanat konstitusi nasional.
“Untuk tujuan ini, Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian dan keamanan seperti yang diamanatkan oleh Konstitusi kita,” kata dia.
Sementara itu, laporan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) menyebutkan bahwa tiga prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia gugur dalam rentang waktu kurang dari 24 jam di wilayah Lebanon selatan.
Insiden pertama terjadi ketika sebuah ledakan yang tidak diketahui asalnya menghancurkan kendaraan di dekat kotamadya Bani Haiyyan, yang menyebabkan dua prajurit TNI tewas dan dua lainnya terluka, termasuk satu dalam kondisi serius.
Peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah insiden terpisah yang menewaskan satu prajurit TNI lainnya akibat serangan proyektil yang menghantam pangkalan UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr.
UNIFIL menyatakan telah meluncurkan penyelidikan atas kedua insiden tersebut untuk mengungkap penyebab dan pihak yang bertanggung jawab.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]