WAHANANEWS.CO, Jakarta - Istilah Super Flu belakangan ini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya laporan kasus influenza di berbagai negara.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan Super Flu, termasuk karakteristik serta gejalanya, guna meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar.
Baca Juga:
Super Flu Subclade K Terdeteksi di Indonesia, Anak dan Lansia Paling Rentan
Super Flu bukanlah istilah medis resmi, melainkan sebutan yang digunakan untuk menggambarkan infeksi influenza dengan tingkat keparahan gejala yang lebih berat serta masa pemulihan yang cenderung lebih lama dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Dalam perkembangan terbaru, istilah ini dikaitkan dengan kemunculan Subclade K yang pertama kali terdeteksi pada Juni 2025.
Varian influenza tersebut dilaporkan memiliki kemampuan penyebaran yang relatif cepat di tengah masyarakat.
Baca Juga:
Super Flu yang Heboh di Akhir tahun: Bukan Virus Baru, Tapi Lebih Cepat Menyebar dan Lebih Menguras Tubuh
Kendati demikian, para ahli menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan indikasi Subclade K mengalami mutasi yang tidak wajar atau menunjukkan perilaku yang jauh berbeda dibandingkan virus influenza global lainnya.
Dari sisi klinis, gejala Super Flu pada dasarnya serupa dengan influenza biasa. Namun, perbedaan utamanya terletak pada intensitas keluhan yang lebih berat serta durasi pemulihan yang lebih panjang.
Sejumlah gejala yang kerap dilaporkan antara lain demam tinggi, nyeri otot dan tubuh yang terasa lebih intens, kelelahan ekstrem, batuk berkepanjangan, serta sakit tenggorokan.