WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kontingen Indonesia mencatatkan prestasi gemilang dengan melampaui target perolehan medali pada ajang ASEAN Para Games (APG) 2025 di Thailand.
Hasil ini menjadi bukti keberhasilan strategi pembinaan yang diterapkan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama olahraga disabilitas di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:
Indonesia Pamerkan Identitas Bangsa dalam Pembukaan ASEAN Para Games
Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia, Rima Ferdianto, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh atlet, pelatih, serta tim Chef de Mission (CDM) yang telah bekerja keras sejak masa persiapan hingga pelaksanaan pertandingan.
"Kunci suksesnya adalah tidak membebani atlet dengan target individu sehingga mereka bisa bermain lepas dan melebihi ekspektasi. Strategi ini berhasil mengubah potensi perunggu dan perak menjadi medali emas yang lebih banyak," kata Rima seperti dilaporkan RRI, Senin (26/1/2026).
Capaian luar biasa terlihat dari cabang atletik yang semula ditargetkan meraih 25 medali emas, namun justru berhasil mengoleksi lebih dari 40 emas.
Baca Juga:
Indonesia Pasang Target 82 Emas di ASEAN Para Games 2025, Erick Thohir Ingatkan Kekuatan Thailand
Sementara itu, cabang renang juga tampil dominan dengan lonjakan signifikan, dari target delapan emas menjadi 29 medali emas.
"Judo tampil luar biasa dengan menyapu bersih tujuh nomor yang dipertandingkan. Padahal NPC hanya menargetkan lima emas dari tujuh nomor yang tersedia," ujar Rima.
Di sisi lain, cabang olahraga catur mengalami penurunan performa. Indonesia hanya mampu mengamankan sembilan medali, belum memenuhi target minimal 12 hingga 15 medali.
Rima menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh minimnya waktu persiapan dibandingkan negara pesaing.
"Persiapan kontingen memadukan tim utama yang berlatih setahun lebih untuk Paralimpiade LA dengan tim khusus APG berlatih dua bulan. Program latihan dipadatkan dari biasanya enam bulan menjadi hanya 2,5 bulan dengan intensitas tinggi," ujarnya.
Ia menambahkan, strategi pelatih yang fokus pada pemilihan nomor optimal serta program latihan yang efisien terbukti mampu mendekatkan atlet pada performa puncak.
Proses regenerasi atlet juga berjalan positif, ditandai dengan hadirnya puluhan atlet baru yang menggantikan atlet senior yang mengalami penurunan performa.
Namun demikian, NPC Indonesia juga mencatat sejumlah persoalan serius terkait penyelenggaraan oleh tuan rumah Thailand.
Beberapa protes resmi telah disampaikan, terutama mengenai aspek non-teknis yang dinilai merugikan kontingen peserta.
"Pelayanan akomodasi, makanan, dan transportasi dinilai buruk di beberapa lokasi seperti Suranari," kata Rima menjelaskan.
Selain itu, pelaksanaan pertandingan disebut sarat kejanggalan. Pada beberapa nomor, hanya tiga atlet tuan rumah Thailand yang bertanding sehingga otomatis meraih medali, tanpa kehadiran lawan dari negara lain. Kondisi ini dinilai tidak adil dan mencederai semangat sportivitas.
"Banyak negara peserta mengeluhkan layanan kesehatan buruk, transportasi tidak tepat waktu, dan makanan yang tidak cukup. NPC mengecap ini sebagai penyelenggaraan ASEAN Para Games terburuk sepanjang sejarah," ucap Rima dengan nada kecewa.
Rima bahkan menilai ajang ini lebih pantas disebut Thailand Para Games, dengan negara-negara lain hanya berperan sebagai undangan.
Seluruh keluhan dan keberatan tersebut disampaikan secara resmi dalam forum CDM Meeting yang dihadiri perwakilan negara peserta.
"Meskipun ada kendala organisasi, prestasi kontingen Indonesia tetap luar biasa dengan melampaui semua target. Atlet akan dipulangkan melalui dua kloter pesawat setelah upacara penutupan resmi," ujar Rima.
Rencananya, kloter pertama tiba di Solo pada pukul 18.00 WIB, disusul kloter kedua pada pukul 00.30 WIB dini hari.
Setelah beristirahat, para atlet akan kembali dipersiapkan untuk menghadapi agenda kompetisi berikutnya di Malaysia.
Ke depan, NPC Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat program pembinaan, khususnya pada cabang-cabang unggulan.
Untuk cabang catur, pelatnas dengan durasi minimal enam bulan dinilai menjadi keharusan guna mengembalikan performa dan daya saing Indonesia di level regional.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]