WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem olahraga yang inklusif, setara, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" yang digelar di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Baca Juga:
Fasilitas Belum Layak, Cirebon Tunda Ambisi Gelar Invitasi Atletik Nasional
Program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian sertifikasi kepada peserta, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mencetak penggerak, pendamping, sekaligus agen pembudayaan olahraga disabilitas di berbagai daerah.
Melalui pelatihan tersebut, Kemenpora berharap lahir sumber daya manusia yang mampu memperluas akses dan meningkatkan partisipasi olahraga bagi penyandang disabilitas hingga ke tingkat komunitas.
Hal itu disampaikan Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora RI, Ahmad Arsani, saat membuka kegiatan ToT Penggerak Olahraga Disabilitas "Berdaya" di Hotel Fitra, Kabupaten Majalengka, Kamis (16/7) siang.
Baca Juga:
Aspers Panglima TNI Hadiri Acara Puncak Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2024
Dalam paparannya, Arsani mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah pelatih dan penggerak olahraga disabilitas menjadi kebutuhan mendesak.
Berdasarkan data yang dimiliki Kemenpora, dari sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia, baru sekitar 11,6 persen yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga.
Kondisi tersebut, menurutnya, juga dipengaruhi oleh masih minimnya tenaga kepelatihan yang memiliki kompetensi di bidang olahraga disabilitas.
Hingga saat ini, Indonesia baru memiliki 92 pelatih disabilitas yang berasal dari National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), sehingga kebutuhan akan pelatih dan pendamping masih sangat besar.
"Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT 'Berdaya' ini," ujar Arsani.
Arsani menjelaskan, program "Berdaya" disusun secara sistematis melalui empat fase yang saling berkesinambungan agar mampu menghasilkan penggerak olahraga disabilitas yang berkualitas.
Fase pertama diawali dengan pembentukan master trainer yang bertugas menjadi instruktur bagi pelatih-pelatih di daerah.
"Telah dilaksanakan pada April lalu dengan melibatkan 30 atlet elite internasional. Peserta yang lulus seleksi komprehensif ini digembleng untuk siap menjadi instruktur bagi para pelatih di daerah," katanya.
Tahap berikutnya merupakan pelaksanaan pelatihan intensif bagi para pelatih lokal yang memiliki komitmen untuk mengembangkan olahraga disabilitas di wilayah masing-masing.
Setelah itu, peserta akan memasuki fase aktualisasi, yaitu tahap penerapan ilmu dan keterampilan yang diperoleh melalui pendampingan langsung kepada komunitas maupun kelompok penyandang disabilitas.
"Fase Ketiga merupakan aktualisasi, yakni periode implementasi langsung di mana para pelatih menerapkan keterampilan yang didapat ke tingkat komunitas atau kelompok disabilitas." tambahnya.
Tahap terakhir dalam program tersebut adalah monitoring dan evaluasi.
Pada fase ini dilakukan pengawasan terhadap implementasi program, pengukuran dampak yang dihasilkan, serta penyusunan laporan sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan program di masa mendatang.
Kegiatan ToT "Berdaya" di Kabupaten Majalengka berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh 120 peserta yang berasal dari berbagai unsur penggerak olahraga disabilitas di wilayah tersebut.
Untuk menjaga kualitas pelatihan, Kemenpora menghadirkan sejumlah narasumber dan instruktur yang terdiri atas akademisi, praktisi, serta pakar kepelatihan olahraga adaptif.
Selama mengikuti pelatihan, peserta memperoleh berbagai materi yang dirancang secara komprehensif.
Materi tersebut meliputi pengenalan olahraga adaptif dan cabang olahraga paralimpik beserta sistem pembinaannya, klasifikasi olahraga disabilitas berdasarkan karakteristik hambatan yang dimiliki atlet, hingga metode pelatihan adaptif yang menitikberatkan pada penyusunan program latihan yang aman, efektif, dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, peserta juga dibekali kemampuan dalam melakukan identifikasi bakat olahraga sejak dini melalui teknik dan metode pencarian potensi atlet penyandang disabilitas, sehingga proses pembinaan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
"Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat."
Melalui pelaksanaan program ToT "Berdaya", Kemenpora RI menegaskan komitmennya untuk memperluas kesempatan berolahraga bagi penyandang disabilitas sekaligus memperkuat sistem pembinaan olahraga adaptif di Indonesia.
Kehadiran para penggerak olahraga disabilitas di berbagai daerah diharapkan mampu meningkatkan angka partisipasi masyarakat, melahirkan lebih banyak atlet berprestasi, serta mewujudkan ekosistem olahraga yang semakin inklusif dan berkelanjutan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]