WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pelatih Timnas Spanyol Luis de la Fuente menegaskan bahwa peluang kembali membela La Roja masih terbuka bagi para pemain senior.
Dua nama yang secara khusus disinggung adalah Álvaro Morata dan Dani Carvajal, yang dinilai masih memiliki kesempatan untuk kembali memperkuat tim nasional apabila dibutuhkan.
Baca Juga:
Dunia Mengakui Kehebatan La Roja, Ini Deretan Rekor Bersejarah yang Baru Saja Diciptakan
Keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 di partai final menjadi bukti keberhasilan proyek yang dibangun De la Fuente.
Menurut pelatih berusia 65 tahun itu, gelar juara dunia bukanlah hasil kerja satu sosok, melainkan buah dari kekompakan seluruh elemen tim.
"Piala Dunia milik Luis de la Fuente? Hal itu membuat saya merasa malu. Tetapi saya ingin mengingatkan semua orang bahwa ini adalah Piala Dunia sebuah timnas yang hebat," kata De la Fuente dalam keterangannya, seperti dilansir media Spanyol, AS, Minggu (26/7/2026).
Baca Juga:
Tongkat Komando Yonif 142/Ksatria Jaya Resmi Berganti
De la Fuente menilai Spanyol tampil lebih dominan dibanding Argentina sepanjang laga final.
Ia menyebut timnya mampu mengontrol jalannya pertandingan dan membatasi agresivitas lawan hingga tidak mampu menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran.
"Kami jelas lebih unggul di final, dan mereka tidak melepaskan satu pun tembakan ke arah gawang kami. Meski kami merasakan sedikit ketenangan, sepak bola selalu menyimpan kejutan," ucap De la Fuente.
Meski demikian, ia mengakui pertandingan tetap menghadirkan momen yang menegangkan, terutama pada babak tambahan waktu.
Menurutnya, satu kesalahan kecil saja bisa mengubah jalannya pertandingan dan menggagalkan ambisi Spanyol menjadi juara dunia.
"Seandainya sapuan Cubarsi memantul dari Unai Simón dan masuk ke gawang, mereka bisa saja menang. Tanpa satu pun tembakan ke arah gawang, untungnya, momen itu ditangani dengan baik," ucap De la Fuente.
Kesuksesan La Roja, lanjut De la Fuente, tidak lepas dari kokohnya organisasi pertahanan sepanjang turnamen.
Ia mengungkapkan Spanyol hanya menghadapi 10 tembakan selama Piala Dunia dan hanya kebobolan satu gol, sebuah catatan yang menunjukkan disiplin tinggi seluruh pemain dalam bertahan.
"Kami hanya menerima sepuluh tembakan sepanjang turnamen. Itu terjadi karena tim ini bertahan secara kolektif dengan sangat baik," ujar De la Fuente.
Selain tampil solid di lini belakang, Spanyol juga menunjukkan produktivitas tinggi di sektor penyerangan.
Menurutnya, keseimbangan antara menyerang dan bertahan menjadi salah satu identitas tim yang dibangunnya selama beberapa tahun terakhir.
"Kami adalah tim yang mencetak banyak gol dan sangat sedikit kebobolan. Ini adalah tim yang kooperatif, murah hati, dan memiliki organisasi pertahanan yang dirancang dengan cermat," kata De la Fuente.
Mengenai perjalanan Spanyol sepanjang turnamen, De la Fuente mengaku tidak pernah kehilangan keyakinan terhadap kemampuan para pemainnya.
Ia memilih mengabaikan berbagai kritik dari luar dan lebih fokus menjaga suasana positif di dalam ruang ganti agar para pemain tetap percaya diri.
"Setelah pertandingan pertama, kami tahu bahwa inilah jalur yang benar. Selama 52 hari, tidak ada satu pun masalah yang terjadi di dalam tim," ucap De la Fuente.
Pelatih asal Spanyol itu juga memberikan apresiasi khusus kepada Ferran Torres yang menjadi penentu kemenangan pada laga final.
Menurutnya, gol tersebut menjadi jawaban atas berbagai kritik yang selama ini diarahkan kepada sang penyerang.
"Saya sangat senang karena Ferran mencetak gol di final. Ketika seseorang menerima kritik yang tidak adil, kehidupan akan memberi kesempatan untuk membuktikan dirinya," ujar De la Fuente.
Ia kemudian membandingkan perjalanan Ferran Torres dengan Álvaro Morata.
Menurut De la Fuente, kedua pemain sama-sama pernah menjadi sasaran kritik, tetapi mampu membuktikan kualitas mereka melalui kontribusi nyata bersama tim nasional.
"Ferran memiliki angka-angka yang menakjubkan bersama timnas. Ia sedikit mengingatkan saya kepada Álvaro Morata," ucap De la Fuente.
Dalam kesempatan yang sama, De la Fuente juga memberikan pujian kepada dua talenta muda Spanyol, Lamine Yamal dan Pau Cubarsi.
Keduanya dinilai memiliki kualitas, kematangan, dan kecerdasan bermain yang jauh melampaui usia mereka sehingga diyakini akan menjadi pilar penting La Roja pada masa mendatang.
"Orang-orang seperti Lamine Yamal dan Pau Cubarsi sangat istimewa. Mereka memiliki kematangan dan kecerdasan yang luar biasa. Bagi saya, mereka adalah para jenius," kata De la Fuente.
Menutup pernyataannya, De la Fuente membandingkan tim juara dunia 2026 dengan generasi emas Spanyol yang meraih gelar Piala Dunia 2010.
Menurutnya, filosofi permainan Spanyol tetap berlandaskan permainan kolektif, meski telah mengalami berbagai penyesuaian mengikuti perkembangan sepak bola modern.
"Saya tidak begitu menyukai istilah tiki-taka. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sepak bola kolektif atau harmonis," ujar De la Fuente.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]