WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di dunia kerja, berkata “ya” sering dianggap sebagai tanda loyalitas, sikap profesional, dan kemauan untuk berkembang.
Mereka yang selalu siap mengiyakan permintaan atasan kerap dipersepsikan sebagai pekerja ideal: mudah diatur, sigap, dan tidak banyak protes.
Baca Juga:
2 Intel Dituduh Provokator Hingga Dipukuli, Ini Keterangan Kapolres Tapteng
Namun di balik citra manis itu, tersembunyi sebuah paradoks karier yang kerap luput disadari—terlalu sering berkata “ya” justru bisa menjadi jalan sunyi menuju stagnasi, kelelahan, bahkan kehancuran reputasi profesional.
Fenomena ini melahirkan satu tipe pekerja yang semakin jamak ditemui: yes-man specialist—individu yang ahli menyenangkan atasan, tetapi perlahan kehilangan jati diri, daya kritis, dan nilai strategisnya di organisasi.
Ketika “Ya” Menjadi Mata Uang Murah
Baca Juga:
Seleksi Kepala Sekolah di Kota Jambi Libatkan 291 Guru, Fokus pada Integritas dan Keteladanan
Pada tahap awal karier, sikap kooperatif memang penting. Namun masalah muncul ketika “ya” menjadi refleks, bukan keputusan.
Seorang yes-man specialist cenderung menerima semua tugas tanpa menimbang kapasitas, risiko, atau relevansinya dengan tujuan jangka panjang.
Akibatnya, kualitas kerja menurun, tenggat waktu terlewat, dan kepercayaan yang awalnya dibangun justru terkikis pelan-pelan.
Ironisnya, semakin sering seseorang berkata “ya”, semakin murah pula nilai profesionalnya. Ia tak lagi dipandang sebagai mitra berpikir, melainkan sekadar pelaksana perintah.
Dalam jangka panjang, organisasi tidak melihatnya sebagai kandidat pemimpin, melainkan roda cadangan yang bisa diputar kapan saja.
Matinya Daya Kritis dan Kreativitas
Karier tidak tumbuh dari kepatuhan semata, melainkan dari kontribusi bermakna. Yes-man specialist jarang mengajukan pertanyaan kritis, enggan menyampaikan perspektif alternatif, dan takut berbeda pendapat. Padahal, inovasi justru lahir dari dialog, perbedaan sudut pandang, dan keberanian menyuarakan ketidaknyamanan yang produktif.
Ketika seseorang selalu berkata “ya”, ia sesungguhnya sedang melatih dirinya untuk tidak berpikir. Dalam jangka panjang, ini mematikan kreativitas dan menjauhkan dirinya dari peran strategis yang membutuhkan analisis dan kepemimpinan.
Kelelahan Emosional yang Tak Terlihat
Di balik sikap “siap, Pak” atau “baik, Bu” yang konsisten, sering tersembunyi kelelahan mental.
Yes-man specialist memikul beban berlebih, bekerja melampaui batas, dan menekan emosi demi menjaga citra. Burnout bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.
Lebih berbahaya lagi, kelelahan ini kerap tidak terlihat—bahkan oleh diri sendiri.
Saat performa menurun, yang disalahkan adalah individu tersebut, bukan pola kerja yang tidak sehat. Di titik inilah karier mulai runtuh dari dalam.
Banyak orang percaya bahwa menyenangkan atasan adalah jalan tercepat menuju promosi.
Kenyataannya, atasan yang visioner justru membutuhkan bawahan yang mampu berpikir mandiri, berani memberi masukan, dan dapat dipercaya untuk berkata “tidak” demi kepentingan yang lebih besar.
Yes-man specialist mungkin disukai, tetapi jarang dihormati. Ia aman secara jangka pendek, namun rapuh secara jangka panjang. Saat organisasi menghadapi krisis, figur yang dicari bukan yang paling patuh, melainkan yang paling jujur dan solutif.
Belajar Berkata “Tidak” dengan Cerdas
Berkata “tidak” bukan berarti membangkang. Ia adalah keterampilan profesional. “Tidak” yang disertai alasan rasional, alternatif solusi, dan komunikasi yang tepat justru memperkuat posisi seseorang di mata atasan.
Misalnya, alih-alih menolak mentah-mentah, seseorang bisa berkata: “Saya bisa mengerjakan ini, tetapi untuk menjaga kualitas, saya perlu menunda tugas A atau meminta dukungan tambahan.” Sikap ini menunjukkan tanggung jawab, bukan penolakan.
Menjadi Profesional
Karier yang sehat dibangun di atas keseimbangan: antara loyalitas dan integritas, antara kerja keras dan batas yang jelas, antara berkata “ya” dan berani berkata “tidak”.
Profesional sejati bukan mereka yang selalu mengiyakan, melainkan mereka yang tahu kapan harus setuju, kapan perlu mengkritisi, dan kapan wajib menolak demi kualitas dan keberlanjutan.
Tragedi yes-man specialist bukan terjadi dalam semalam. Ia lahir dari niat baik yang tidak diimbangi kesadaran diri.
Maka, sebelum kata “ya” meluncur otomatis dari bibir Anda, berhentilah sejenak dan bertanya: apakah ini akan membangun karier saya, atau justru menggerogotinya perlahan?
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]