WAHANANEWS.CO, Jakarta - Trailer film internasional berjudul “Lost Land” atau dalam bahasa Rohingya dikenal sebagai “Harà Watan”, resmi dirilis melalui kanal YouTube LOST LAND International Trailer.
Film ini merupakan drama personal arahan sutradara Jepang, Fujimoto Akio, yang mengangkat kisah menyentuh tentang perjalanan pengungsi Rohingya dalam mencari tempat aman dan masa depan.
Baca Juga:
Polres Subulussalam Berhasil Amankan Tiga Orang Terduga Pelaku TPPO Rohingya
Dilansir dari Variety, Kamis (28/8/2025), karya terbaru Fujimoto ini dijadwalkan melakukan pemutaran perdana dunia di ajang bergengsi Venice Film Festival.
Tidak hanya itu, film tersebut juga masuk dalam kompetisi Horizons, salah satu kategori yang banyak menyoroti karya-karya dengan pendekatan sinematik baru dan berani.
Cerita dalam film berfokus pada Shafi, seorang anak berusia empat tahun, dan Somira, kakaknya yang berusia sembilan tahun.
Baca Juga:
Kemenag Kabupaten Aceh Barat Telusuri Pasangan Rohingya Nikah di Lokasi Penampungan
Mereka berangkat dari kamp pengungsian di Bangladesh menuju Malaysia dengan tujuan untuk bersatu kembali dengan keluarganya yang tercerai-berai akibat konflik.
Perjalanan tersebut diawali dengan pelayaran penuh risiko, namun tragedi di laut membuat keduanya terdampar sendirian di Thailand.
Dari situlah kisah perjuangan bertahan hidup dimulai, menggambarkan rapuhnya nasib pengungsi kecil di tengah ketidakpastian.
Fujimoto sebelumnya telah dikenal lewat film “Passage of Life” dan “Along the Sea”, yang juga mengeksplorasi tema migrasi dan keterasingan.
Ia menuturkan bahwa selama lebih dari 12 tahun bekerja di Myanmar, isu Rohingya masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.
“Keheningan itu menjadi motivasi bagi saya untuk membuat film ini,” ungkapnya. Ia ingin menghadirkan gambaran nyata tentang pencarian kedamaian dan harapan rakyat Rohingya.
Keaslian cerita semakin kuat dengan penggunaan bahasa Rohingya sepanjang film.
Lebih dari 200 orang Rohingya dilibatkan, termasuk dua kakak-beradik Rohingya yang menjadi pemeran utama.
Meski bukan aktor profesional, pengalaman pribadi mereka yang tak jauh berbeda dengan perjalanan pengungsi sungguhan memberikan kedalaman emosional yang sulit didapat dari aktor biasa.
Produser bersama, Sujauddin Karimuddin, menekankan pentingnya proyek ini.
Menurutnya, film ini menjadi film pertama berbahasa Rohingya yang diperankan sepenuhnya oleh orang Rohingya.
Selain sebagai karya seni, film ini juga menjadi bentuk pelestarian bahasa serta perlawanan budaya di tengah ancaman genosida yang terus menghantui komunitas Rohingya.
Produksi film berskala internasional ini melibatkan kerja sama antara Jepang, Prancis, Malaysia, dan Jerman.
Sisi visual dipercayakan kepada sinematografer Kitagawa Yoshio, sementara musik digubah oleh komponis Ernst Reijseger, yang sebelumnya banyak bekerja sama dengan sutradara ternama Werner Herzog.
Film ini diproduksi oleh Watanabe Kazutaka melalui rumah produksi E.x.N K.K., dengan dukungan sejumlah produser bersama dari berbagai negara.
Penjualan dan distribusi internasional ditangani oleh Rediance, yang dikenal kerap membawa karya Asia ke panggung global.
Melalui “Lost Land”, Fujimoto menghadirkan sebuah kisah yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menyuarakan realitas pahit yang dihadapi pengungsi Rohingya.
Lebih dari sekadar film, karya ini menjadi pengingat pentingnya menjaga budaya, bahasa, dan identitas yang terancam punah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]