WAHANANEWS.CO, Jakarta — Ketidakpastian geopolitik dunia yang terus mengguncang pasokan energi global mulai memberi tekanan serius terhadap ketahanan energi Indonesia. Ketergantungan besar terhadap energi fosil yang masih mendominasi konsumsi nasional membuat setiap gejolak harga minyak mentah dunia berpotensi menjadi ancaman nyata bagi stabilitas nasional.
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan menciptakan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu memahami aspek sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik, dinilai menjadi kunci menghadapi masa depan transisi energi.
Baca Juga:
MK Tegaskan Jakarta Masih Jadi Ibu Kota RI hingga Ada Keppres Pemindahan
Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) sekaligus perwakilan Dewan Pembina Pertamina Foundation, Erry Sugiharto, menegaskan bahwa transformasi menuju energi bersih tidak bisa hanya bergantung pada kecanggihan teknologi semata.
"Transformasi bauran energi menuju energi bersih dan rendah karbon tidak cukup jika hanya dijawab oleh kecanggihan teknologi. Diperlukan kombinasi keahlian yang kuat antara lulusan teknik dan lulusan sosial," tegas Erry saat Sidang Terbuka Wisuda XIV Universitas Pertamina di Jakarta dalam lepasan pers, Senin (25/6/2026).
Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) M.Erry Sugiharto memberikan sambutan dalam acara Wisuda ke-XIV Universitas Pertamina, di Gedung Sasana Kriya TMII, Senin (25/5/2026). [WAHANANEWS.CO / Adi Noor F / Pertamina University]
Baca Juga:
Mobil Listrik di Jakarta Tetap Bebas Pajak dan Ganjil Genap
Menurutnya, masa depan industri energi membutuhkan kolaborasi multidisiplin yang semakin kompleks. Lulusan teknik dituntut menciptakan inovasi sistem energi baru dan teknologi dekarbonisasi, sementara lulusan sosial memegang peran penting dalam menyusun kebijakan, membangun kepercayaan publik, hingga memastikan transisi energi berjalan adil bagi masyarakat.
"Tanpa kolaborasi multidisiplin ini, transformasi energi tidak akan optimal," ujar Erry.
Tantangan tersebut semakin besar lantaran dunia diproyeksikan akan memasuki gelombang transformasi pekerjaan hijau dalam beberapa tahun mendatang. Proyeksi global memperkirakan jutaan lapangan kerja baru akan muncul hingga 2030, namun di sisi lain, kesenjangan kompetensi talenta muda masih menjadi persoalan serius.
Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan, menilai perguruan tinggi kini menghadapi tekanan besar untuk menghasilkan lulusan yang adaptif di tengah perubahan industri yang bergerak sangat cepat.
"Kemampuan menyesuaikan diri, bekerja sama, serta berpikir kritis menjadi kunci utama menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika industri," kata Henri.
Ia menambahkan, mahasiswa saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik semata, melainkan harus dibekali pengalaman industri, riset, sertifikasi, hingga penguasaan teknologi agar mampu menjadi motor penggerak menuju target net zero emission.
Menjawab tantangan tersebut, Pejabat Sementara Rektor Universitas Pertamina, Profesor Doktor Techn, Djoko Triyono, mengatakan pihaknya secara strategis merancang sistem pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital, transisi energi, dan dekarbonisasi dengan dukungan ekosistem industri.
Pejabat Sementara Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. techn. Djoko Triyono memberikan sambutan dalam acara Wisuda ke-XIV Universitas Pertamina, di Gedung Sasana Kriya TMII,Senin (25/5/2026). [WAHANANEWS.CO / Adi Noor F / Pertamina University]
Pada wisuda ke-14 kali ini, Universitas Pertamina melepas 223 lulusan dengan capaian akademik yang cukup mencolok. Sebanyak 46,64 persen lulus dengan predikat sangat memuaskan dan 33,18 persen berhasil meraih predikat cumlaude.
Menurut Djoko, konsep lulusan yang dibangun bukan sekadar sarjana biasa, tetapi sosok multitalenta yang mampu bergerak lintas disiplin.
"Predikat 'Sarjana' menandai penguasaan sains dan teknologi, namun gelar akademik ini baru sebuah awal. Falsafah 'Sujana' melengkapinya dengan kekuatan kompas moral agar ilmu para lulusan mampu menjadi jembatan kebaikan yang tulus serta inklusif bagi masyarakat," tutur Djoko.
Dengan tekanan geopolitik yang terus membayangi pasar energi global, pertarungan masa depan tampaknya tak lagi sekadar soal siapa yang memiliki teknologi terbaik, tetapi siapa yang mampu menyiapkan manusia paling adaptif untuk menghadapi perubahan.
[Redaktur: Hendrik Isnaini Raseukiy]