WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan visi kuat serta empati mendalam dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi yang memberikan dampak nyata.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam sebuah forum yang berlangsung di Sarinah, Sabtu (25/4/2026), yang dihadiri berbagai pemimpin perempuan dari beragam sektor.
Baca Juga:
Atasi Krisis Sampah, Kemdiktisaintek Gandeng Berbagai Pihak dan Dorong Inovasi Teknologi
Dalam sesi talk show bertajuk “Memimpin dengan Hati dan Visi”, Stella menjelaskan bahwa kepemimpinan di lingkungan pendidikan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada kebijakan administratif semata.
Lebih dari itu, pemimpin dituntut memiliki kepekaan dalam membaca persoalan di lapangan sekaligus kemampuan menyusun solusi yang komprehensif, terstruktur, dan berkelanjutan.
“Saya mencoba menerjemahkan dengan hati, artinya bisa mempunyai kejelian dan kenalaran untuk melihat problem-problem yang ada di sekitar, dengan jeli dan visi artinya bisa memikirkan penyelesaian masalah-masalah tersebut secara menyeluruh dan struktural,” ujar Wamen Stella.
Baca Juga:
Kemdiktisaintek dan DPR Perkuat Evaluasi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru
Kepemimpinan Transformatif untuk Pendidikan Tinggi
Lebih lanjut, Stella menegaskan bahwa upaya transformasi pendidikan tinggi membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya responsif terhadap perubahan, tetapi juga mampu bertindak strategis dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Permasalahan di sektor pendidikan tinggi, menurutnya, harus diselesaikan melalui pendekatan yang menyeluruh, dengan dukungan kebijakan yang adaptif, efektif, dan berorientasi pada hasil konkret.
Pendekatan ini selaras dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui semangat Diktisaintek Berdampak.
Konsep tersebut menekankan bahwa setiap program dan kebijakan yang dihasilkan harus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar lebih kompetitif di tingkat global.
Dalam forum tersebut, Stella juga menyoroti pentingnya membangun perspektif yang tepat dalam melihat kapasitas sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi.
Ia menilai bahwa penguatan ekosistem pendidikan tinggi harus didukung oleh sistem yang inklusif, terbuka, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh talenta bangsa untuk berkembang secara optimal.
Kepemimpinan Autentik dan Berintegritas
Selain itu, Stella turut menekankan pentingnya kepemimpinan yang autentik dan berintegritas.
Menurutnya, setiap pemimpin harus memiliki keberanian untuk menyuarakan gagasan, menjaga nilai-nilai yang diyakini, serta menjunjung tinggi integritas dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Ia menegaskan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak hanya diukur dari hasil akhir yang dicapai, tetapi juga dari proses yang dijalankan, termasuk komitmen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan pada kepentingan yang lebih luas.
Partisipasi Wamendiktisaintek dalam forum ini mencerminkan komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam mendorong kepemimpinan transformatif di lingkungan pendidikan tinggi.
Selain itu, upaya ini juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem sains, mengembangkan talenta unggul, serta menghadirkan kebijakan yang inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, kementerian berkomitmen untuk terus menghadirkan kebijakan yang tidak hanya solutif, tetapi juga berkelanjutan dan mampu mendorong kemajuan bangsa di berbagai sektor strategis.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]