WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nilai tukar rial Iran ambruk tajam dan memicu guncangan ekonomi serius di tengah tekanan krisis yang kian memburuk di negara tersebut.
Pada Rabu (14/1/2026), nilai tukar mata uang Iran tercatat jatuh ke level US$1 setara dengan 1,06 juta rial Iran (IRR).
Baca Juga:
AS Geser Kapal Induk, Israel Sebut AS Siap Hantam Iran
Angka tersebut menunjukkan pelemahan ekstrem sebesar 2.437 persen dibandingkan posisi awal 2025, ketika US$1 masih berada di kisaran 42 ribu rial.
Keputusan pasar yang terus melemahkan rial tidak hanya terjadi terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga tercermin jelas terhadap rupiah Indonesia.
Pada hari yang sama, nilai tukar menunjukkan Rp1 setara dengan 63,39 rial Iran.
Baca Juga:
Iran Tegaskan Komitmen Lindungi Hak Demonstrasi di Tengah Gejolak Ekonomi
Dengan kurs tersebut, uang pecahan Rp20 ribu jika dikonversi bernilai sekitar 1,3 juta rial Iran.
Jika dibandingkan dengan posisi awal 2025, nilai tukar rial Iran terhadap rupiah telah terperosok sekitar 2.360 persen dari sebelumnya yang berada di kisaran 2,5 rial per rupiah.
Anjloknya mata uang nasional Iran ini memperparah krisis ekonomi yang telah lama menghantam kehidupan masyarakat.
Pelemahan rial terhadap dolar AS secara langsung mendorong lonjakan harga barang dan jasa di dalam negeri.
Harga kebutuhan pokok seperti daging, beras, serta bahan pangan dan dapur lainnya dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Tekanan inflasi pun tak terbendung, dengan tingkat inflasi Iran tercatat mencapai 42 persen pada Desember 2025.
Kondisi ini turut menghantam sektor energi, termasuk harga bahan bakar minyak yang selama ini dikenal sangat murah berkat subsidi besar pemerintah.
Tekanan fiskal akibat nilai tukar yang terpuruk memaksa pemerintah Iran melakukan penyesuaian kebijakan subsidi BBM.
Menurut laporan AP News, sejak Desember 2025 pemerintah Iran mulai menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat sebagai upaya mengurangi beban subsidi negara.
Dalam kebijakan baru tersebut, setiap pengendara tetap memperoleh jatah 60 liter bensin per bulan dengan harga subsidi sebesar 15 ribu rial per liter.
Setelah kuota tersebut habis, pengendara masih dapat membeli tambahan hingga 100 liter dengan harga 30 ribu rial per liter.
Namun, konsumsi bensin di atas 160 liter per bulan dikenakan tarif yang jauh lebih mahal, yakni 50 ribu rial per liter.
Sebelum kebijakan baru diberlakukan, pemerintah Iran masih menerapkan sistem dua lapis harga bensin.
Pada skema lama, 60 liter pertama dijual dengan harga subsidi 15 ribu rial per liter, sementara pembelian di atas kuota tersebut dikenakan harga 30 ribu rial per liter.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]