WAHANANEWS.CO, Jakarta - Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen oleh Bank Dunia perlu dipandang sebagai pengingat untuk memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 4,7 persen merupakan sinyal ‘kuning’ yang cukup serius, namun perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Prediksi ini memang mencerminkan beberapa realitas pahit yang sedang dihadapi ekonomi domestik saat ini. Terutama dengan adanya eskalasi geopolitik Iran-Israel Amerika,” kata Rahma dilansir dari Antara di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Baca Juga:
Bakorwil Surakarta Jadi Pusat Aglomerasi Ekonomi Solo Raya, MARTABAT Prabowo-Gibran: Langkah Strategis dan Visioner
Ia menjelaskan perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proyeksi tersebut.
Konsumsi yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) kini menghadapi tekanan, terutama dari sisi daya beli masyarakat kelas menengah.
Menurut dia, kondisi itu tercermin dari penjualan ritel dan kendaraan bermotor yang cenderung stagnan, di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak sepenuhnya diimbangi peningkatan upah riil.
Baca Juga:
Bupati Tapanuli Utara Tekankan Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Penguatan SDM
Di sisi lain, kebijakan moneter yang ketat juga turut memengaruhi aktivitas ekonomi.
Suku bunga yang relatif tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar berdampak pada mahalnya biaya pinjaman, baik untuk kredit usaha maupun perumahan, sehingga pelaku usaha dan investor cenderung lebih berhati-hati.
“Angka (pertumbuhan ekonomi) 4,7 persen lebih mendekati realitas psikologis dan lapangan saat ini dibandingkan target optimis 5 persen ke atas. Meskipun secara makro angka inflasi terlihat terkendali, secara mikro banyak sektor usaha terutama manufaktur dan tekstil yang sedang mengalami kesulitan,” jelasnya.
Rahma menambahkan faktor eksternal juga berperan, termasuk perlambatan ekonomi global dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti China yang berdampak pada kinerja ekspor komoditas Indonesia.
“Pemangkasan ini adalah ‘peringatan’ bagi pemerintah bahwa mesin pertumbuhan konvensional mulai kehabisan bensin, dan diperlukan stimulus baru atau penguatan daya beli masyarakat bawah dan menengah untuk kembali ke jalur 5 persen.
“Jadi, jika Anda merasa dompet lebih tipis atau bisnis lebih sepi meski berita-berita bilang ekonomi 'aman', proyeksi Bank Dunia ini memvalidasi perasaan tersebut,” tambahnya.
Meski demikian, Rahma menilai target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen masih dapat diupayakan dengan mengoptimalkan berbagai sektor secara bersamaan.
Sektor pertama, ia menekankan pentingnya penguatan sektor industri pengolahan sebagai kontributor utama PDB melalui hilirisasi, termasuk pengolahan komoditas seperti nikel, tembaga, dan bauksit menjadi produk bernilai tambah tinggi serta pengembangan rantai pasok industri baterai dan kendaraan.
"Sektor ini adalah kontributor PDB terbesar (sekitar 19-20 persen). Agar target 5 persen tercapai, manufaktur harus tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.
Sektor kedua, sektor pertanian dinilai memiliki potensi sebagai motor pertumbuhan baru, terutama dengan dukungan peningkatan produktivitas, penyederhanaan distribusi pupuk, serta penguatan program ketahanan pangan guna menjaga stabilitas harga.
"Pertanian saat ini dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru. Pada 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen, membalikkan tren sebelumnya yang di bawah 2 persen," ujar dia.
Sektor ketiga, Rahma menyoroti peran penting konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 54 persen terhadap PDB. Menurut dia, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci, antara lain melalui stabilitas harga pangan, percepatan belanja pemerintah, serta penciptaan lapangan kerja melalui investasi.
Kemudian sektor keempat, masuknya investasi asing langsung (FDI) akan memberikan efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja formal dan peningkatan pendapatan masyarakat.
"Mempercepat eksekusi anggaran sejak kuartal I untuk memicu perputaran uang di masyarakat dengan proyek-proyek infrastruktur, misalnya irigasi, waduk, embung dalam rangka mitigasi El-Nino Godzila (kemarau panjang), membangun jembatan-jembatan yang putus karena bencana, jalan-jalan yang rusak, ini juga memperbanyak padat karya, sehingga masyarakat memiliki income untuk mendongkrak daya beli masyarakat," terang Rahma.
Sektor kelima yakni sektor energi hijau dan ekonomi digital yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang kuat ke depan. Program seperti pengembangan biodiesel serta investasi pada teknologi menjadi peluang untuk mendorong efisiensi dan pertumbuhan berkelanjutan.
"Proyek seperti Biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026 diproyeksikan bisa menghemat anggaran hingga Rp48 triliun, jadi harus ada skala prioritas. Mendorong investasi di bidang teknologi dan ekonomi digital yang memiliki potensi pertumbuhan eksponensial," tutup dia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]