WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan ancaman besar tengah membayangi keuangan negara akibat konflik Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia melonjak tajam hingga berpotensi memicu tambahan defisit APBN ratusan triliun rupiah, Senin (25/5/2026).
Menurut Luhut, ketidakpastian geopolitik terutama di kawasan Selat Hormuz menjadi perhatian serius pemerintah karena Indonesia masih sangat bergantung pada jalur pelayaran vital tersebut.
Baca Juga:
Diduga Terima Gratifikasi Rp17 Miliar, Mantan Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono Ditahan KPK
“Hari ini mereka bilang peluangnya 50:50, besok mereka katakan hal lain, jadi benar-benar penuh ketidakpastian sementara kita sangat bergantung pada selat itu,” kata Luhut saat Seminar ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Kantor DEN, Senin (25/5/2026).
Ia mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah sambil menjaga komunikasi intensif dengan perwakilan sejumlah negara di kawasan tersebut untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap ekonomi global.
Luhut juga menyoroti penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global melewati jalur tersebut.
Baca Juga:
Pembentukan 6 KEK Baru Menunggu PP, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Harus Berdampak ke Rakyat
Kondisi itu disebut memicu tekanan inflasi di berbagai negara sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional termasuk Indonesia.
“Maka ada selisih US$ 20 per barel, artinya kita berbicara potensi defisit sekitar Rp 150 triliun sampai Rp 200 triliun hanya dari kenaikan harga minyak,” ujarnya.
Luhut menjelaskan harga minyak mentah dunia saat ini telah menyentuh kisaran US$ 90 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2025 yang ditetapkan sebesar US$ 70 per barel.