WAHANANEWS.CO, Jakarta - Prancis mulai menghitung korban sebenarnya dari gelombang panas Eropa, ketika sekitar 1.000 kematian tambahan tercatat hanya dalam beberapa hari dan rumah duka di Paris mulai kewalahan.
Eropa dilanda gelombang panas ekstrem selama beberapa pekan terakhir.
Baca Juga:
Polisi Dihujani Batu Saat Selamatkan Wanita yang Disekap Mantan Pacar di Kendari
Gelombang panas yang datang lebih awal pada musim panas 2026 itu berlangsung intens dan berkepanjangan.
Kondisi tersebut membuat warga di berbagai negara mengalami kepanasan, sulit tidur, hingga menghadapi risiko gangguan kesehatan serius.
Di Paris, Prancis, warga sempat merasakan sedikit kelegaan pada akhir pekan lalu setelah badai petir dan angin yang lebih sejuk menurunkan suhu ke tingkat yang lebih nyaman.
Baca Juga:
Polisi Kejar Komplotan Pencopet WNA di Kuningan Usai Video Viral Beredar
Namun, penurunan suhu itu belum menghapus dampak besar yang ditinggalkan gelombang panas terhadap keselamatan warga.
Dampak sebenarnya terhadap korban jiwa justru mulai terlihat setelah otoritas kesehatan merilis data awal.
Badan kesehatan nasional Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari perkiraan sejak Rabu (24/6/2026).
Angka tersebut masih bersifat awal dan diperkirakan dapat bertambah dalam beberapa hari ke depan.
Sebagian besar korban meninggal berasal dari kelompok lanjut usia.
Sekitar 85 persen korban meninggal disebut berusia 65 tahun ke atas.
Kelompok lansia menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap cuaca panas ekstrem.
Risiko kematian meningkat karena suhu tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Selain korban akibat paparan panas, sedikitnya 40 orang lainnya dilaporkan tewas akibat tenggelam.
Banyak warga mencari cara untuk mendinginkan tubuh dengan berenang di kanal, sungai, maupun perairan terbuka.
Kondisi itu memicu risiko baru karena sebagian lokasi berenang tidak diawasi.
Lonjakan korban meninggal membuat rumah duka dan kamar jenazah di Prancis ikut tertekan.
Ketua Federasi Pemakaman Nasional Prancis menyebut tingkat keterisian rumah duka telah melampaui 66 persen secara nasional.
Angka itu meningkat tajam dibandingkan kondisi normal yang biasanya berada di kisaran 30 hingga 45 persen.
Di pusat Kota Paris, dua rumah duka bahkan dilaporkan telah mencapai kapasitas penuh sejak Jumat (26/6/2026).
Situasi tersebut memperlihatkan tekanan besar yang dialami layanan pemakaman akibat lonjakan kematian selama gelombang panas.
Pengamat iklim Prancis menilai gelombang panas kali ini bukan sekadar peristiwa cuaca ekstrem biasa.
“Yang paling berbahaya dari gelombang panas bukan hanya suhu siang hari yang tinggi, tetapi panas yang bertahan pada malam hari dan membuat tubuh kelompok rentan tidak punya waktu untuk pulih,” ujar pengamat iklim Prancis tersebut.
Menurutnya, pemerintah perlu memperlakukan gelombang panas sebagai ancaman kesehatan publik yang membutuhkan sistem peringatan, perlindungan lansia, dan kesiapan layanan darurat secara lebih agresif.
“Jika sistem sosial tidak bergerak lebih cepat dari kenaikan suhu, korban akan terus muncul terutama dari rumah-rumah yang tidak terlihat oleh publik,” katanya.
Gelombang panas ini juga memicu perdebatan politik di Prancis.
Sejumlah pihak dari kubu kiri maupun kanan mengkritik respons pemerintah yang dinilai belum memadai.
Mereka menilai pemerintah perlu bergerak lebih cepat untuk melindungi kelompok rentan.
Perdana Menteri Prancis Sébastian Lecornu membela langkah pemerintah dalam menghadapi gelombang panas tersebut.
Lecornu menyatakan penanganan yang diterapkan sejauh ini telah berjalan dengan baik.
Pemerintah Prancis juga mempertahankan kesiagaan kesehatan pada level tertinggi untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang panas kembali terjadi.
Kebijakan itu diambil karena otoritas meteorologi masih melihat potensi kenaikan suhu dalam beberapa hari ke depan.
Gelombang panas ini menjadi peringatan serius bagi negara-negara Eropa tentang meningkatnya risiko cuaca ekstrem terhadap kesehatan masyarakat.
Selain mengganggu aktivitas harian, suhu ekstrem juga menekan rumah sakit, layanan darurat, rumah duka, dan sistem perlindungan sosial.
Kasus di Prancis menunjukkan bahwa dampak gelombang panas tidak selalu langsung terlihat saat suhu sedang berada di puncaknya.
Korban jiwa justru sering baru tercatat setelah beberapa hari karena data kematian membutuhkan waktu untuk dihimpun.
Pemerintah dan masyarakat kini dihadapkan pada tantangan lebih besar untuk melindungi lansia, warga sakit, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya dari ancaman panas ekstrem.
Gelombang panas yang berlangsung lebih awal, intens, dan panjang itu menjadi sinyal bahwa Eropa harus menyiapkan sistem perlindungan publik yang lebih kuat menghadapi krisis iklim.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]