WAHANANEWS.CO, Jakarta - Eropa seperti dipanggang hidup-hidup ketika gelombang panas ekstrem membuat jalan meleleh, rel trem melengkung, rumah sakit dipenuhi pasien, dan lebih dari 1.300 kematian dikaitkan dengan suhu tinggi.
Gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa disebut sebagai salah satu yang paling parah dalam sejarah pencatatan cuaca.
Baca Juga:
Audit Rp1,567 Triliun Sah, Pembelaan Nadiem Makarim Soal Kerugian Negara Terpatahkan
Suhu udara di sejumlah wilayah menembus 40 derajat celsius, sebagaimana dilansir NDTV, Selasa (30/6/2026).
Panas ekstrem itu memecahkan rekor lama dan mengganggu berbagai sisi kehidupan masyarakat.
Sejumlah fasilitas publik ikut terdampak akibat suhu tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga:
Perwakilan 19 Marga Pakpak Sambangi Sejumlah Instansi Pusat, Sampaikan Dukungan Atas Persetujuan Lingkungan PT DPM
Jalan di sejumlah wilayah dilaporkan meleleh akibat paparan panas ekstrem.
Rel trem juga dilaporkan melengkung karena tidak mampu menahan suhu yang terlalu tinggi.
Gelombang panas tersebut turut membuat ribuan orang harus mendapatkan perawatan medis di berbagai rumah sakit di Eropa.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian terjadi sejak Minggu (21/6/2026) yang disebut berkaitan dengan suhu tinggi di Eropa.
Korban meninggal itu mencakup sejumlah anak yang tewas setelah terkunci di dalam mobil.
Beberapa remaja juga dilaporkan meninggal dunia karena tenggelam saat mencoba mendinginkan tubuh di lokasi berenang yang tidak diawasi.
Di Paris, Perancis, rumah duka dan kamar jenazah dilaporkan kewalahan menghadapi lonjakan jumlah korban meninggal akibat panas.
Perancis melaporkan sedikitnya 74 kematian akibat tenggelam sejak Kamis (18/6/2026).
Meski suhu di Perancis mulai menurun, badan meteorologi nasional negara itu telah memperingatkan potensi gelombang panas baru pada Juli 2026.
Dampak gelombang panas ini juga terekam dalam sejumlah video yang viral di media sosial.
Stasiun televisi Nextra TV membagikan video di akun X yang memperlihatkan warga memasak telur dan daging hanya dalam hitungan menit.
Warga dalam video tersebut menggunakan wajan yang diletakkan langsung di bawah terik matahari.
“Germany is literally melting in the heat,” tulis Nextra TV dalam unggahan tersebut.
Unggahan itu menyoroti kondisi Jerman yang terdampak parah oleh suhu ekstrem.
Di Leipzig, suhu panas membuat sealant atau perekat di sekitar rel trem meleleh.
Perekat yang mencair itu meresap ke dalam rel dan wesel trem sebelum kembali mengeras menjadi gumpalan besar.
“In Leipzig, the extreme temperatures caused the sealant used around tram tracks to melt,” tulis Nextra TV.
Kondisi tersebut membuat operasional trem tidak aman untuk dijalankan.
Sejumlah foto dan video dari Jerman juga memperlihatkan perekat rel dan jalan yang mencair akibat paparan panas.
Rel trem di beberapa titik terlihat melengkung keluar dari alurnya.
Panas ekstrem itu membuat infrastruktur transportasi ikut terganggu.
Video lain yang dikabarkan berasal dari Belanda menunjukkan cat plastik pada mobil mengembang akibat suhu tinggi.
Ada pula video yang memperlihatkan keranjang belanja dan sepatu meleleh setelah terpapar sinar matahari secara langsung.
Gelombang panas yang mula-mula menghantam Eropa bagian barat pada pekan lalu kini bergerak ke arah timur.
Pergerakan gelombang panas itu memecahkan rekor suhu di Polandia, Republik Ceko, dan Jerman.
Jerman mencatat suhu di atas 41 derajat celsius.
Republik Ceko juga menembus suhu 40 derajat celsius.
Di Basel, Swiss, suhu tercatat melampaui rekor 38,8 derajat celsius.
Denmark mencatat hari terpanas sejak pencatatan cuaca dimulai pada 1874.
Inggris mencatat hari terpanas sepanjang bulan Juni dalam sejarah negara tersebut.
Slovakia turut mencetak rekor baru pada Senin (29/6/2026).
Suhu di Turna nad Bodvou, wilayah tenggara Slovakia, mencapai 41 derajat celsius menurut Institut Hidrometeorologi Slovakia atau SHMU.
Di Aszod, Hungaria bagian tengah, suhu mencapai 41,8 derajat celsius.
Angka tersebut hanya terpaut sedikit dari rekor panas mutlak Hungaria sebesar 41,9 derajat celsius yang tercatat pada 2007.
Gelombang panas ini memperlihatkan dampak serius suhu ekstrem terhadap keselamatan manusia, layanan kesehatan, transportasi, hingga aktivitas harian warga Eropa.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]