WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, dan diare sebagai tiga penyakit yang paling banyak diderita pengungsi pascabencana di Desa Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang.
Data tersebut menjadi pijakan awal bagi tim kesehatan untuk melakukan pemetaan penyakit sekaligus menelusuri berbagai faktor risiko yang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan para penyintas.
Baca Juga:
Kemenkes Pastikan Influenza A H3N2 Subclade K Bukan Ancaman Serius
“Di hari pertama pelayanan, kasus yang cukup dominan adalah ISPA, hipertensi, dan diare. Data ini akan kami telusuri lebih lanjut, apakah berkaitan dengan makanan, sanitasi, atau faktor lingkungan lainnya,” kata Dokter Tim Crisis Center (TCK), dr. Fahriza dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, setelah melakukan pencatatan data awal di pos kesehatan, tim medis langsung mendatangi tenda-tenda pengungsian untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan secara lebih mendalam. Sebelum pelayanan dilakukan, relawan terlebih dahulu mengumumkan keberadaan pos kesehatan agar warga mengetahui dan dapat memanfaatkan layanan yang tersedia.
“Kami turun langsung ke tenda-tenda untuk mencari akar permasalahan. Dari situ kami bisa memberikan penyuluhan dan edukasi agar kondisi kesehatan masyarakat ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.
Baca Juga:
Imunitas Jadi Benteng Utama, Kemenkes Buka Opsi Vaksin Influenza Mandiri
Fahriza menambahkan, alur pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian dimulai dari proses pendaftaran pasien, pemeriksaan tanda-tanda vital, hingga pemberian tindakan medis sesuai dengan keluhan yang dialami. Apabila ditemukan kasus yang memerlukan penanganan lanjutan, tim kesehatan akan berkoordinasi dengan puskesmas maupun rumah sakit rujukan setempat.
“Hingga saat ini, belum ditemukan lonjakan signifikan penyakit menular di lokasi pengungsian. Meski demikian, ISPA masih menjadi kasus terbanyak dan terus dimitigasi agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa,” ujarnya.
Selain menangani kesehatan fisik, tim Crisis Center Kemenkes juga memantau kondisi kesehatan mental warga terdampak bencana di wilayah Sumatra. Pemantauan ini dilakukan bersamaan dengan pemetaan sanitasi lingkungan sebagai upaya pencegahan penyakit pascabencana.
“Secara umum kondisi mental masyarakat sudah mulai pulih, memang masih ada yang mengalami trauma, tetapi mereka mulai beradaptasi. Obat-obatan, terutama obat kronik, serta alat kesehatan dan fasilitas pemeriksaan laboratorium sederhana masih sangat terbatas,” ucap Fahriza menjelaskan.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa penyakit campak menjadi salah satu penyakit menular yang paling diwaspadai di lokasi pengungsian di Sumatra. Untuk mencegah potensi penularan, Kemenkes telah menjalankan program imunisasi khusus bagi anak-anak penyintas bencana yang masuk dalam kelompok berisiko tinggi.
“Nah penyakit menular yang kita amati dengan sangat ketat itu yang paling kita takut (itu) campak. Campak itu kita identifikasi ada di lima kabupaten dan kita sudah lakukan imunisasi program khusus, jalan sejak minggu ini,” kata Menkes Budi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]