WAHANANEWS.CO, Jakarta - Cuaca ekstrem tengah melanda ibu kota Thailand, yakni Bangkok. Departemen Lingkungan dan Departemen Meteorologi Thailand melaporkan indeks panas di Bangkok telah menyentuh angka puncaknya di 51,9 derajat celcius.
Dikutip dari The Straits Times, angka tersebut sudah masuk dalam kategori level 'bahaya'. Pihak berwenang setempat pun langsung mengeluarkan peringatan keras kepada warga mengenai tingginya risiko heat stroke atau serangan panas.
Baca Juga:
Cuaca Panas Mendidih, AC Makin Laku Keras di RI
Masyarakat diimbau untuk membatasi dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada jam-jam krusial antara pukul 11 siang hingga 3 sore. Sebagai langkah darurat, pemerintah kota juga telah membuka ruang untuk mengatasi suhu panas di berbagai penjuru Bangkok.
Penting untuk dipahami, indeks panas berbeda dengan suhu udara biasa. Angka ini merupakan representasi dari suhu yang benar-benar 'dirasakan' oleh tubuh manusia, yang dihitung dari kombinasi suhu udara dan kelembaban relatif.
Ketika kelembaban udara terlalu tinggi, kemampuan tubuh untuk mengeluarkan keringat akan menurun drastis, sehingga tubuh terasa jauh lebih panas dan rentan mengalami gangguan kesehatan.
Baca Juga:
Kesaksian Peserta Gelaran Marathon BTN Jaktim 2026 Banyak Tumbang, 1 Pelari Meninggal
Menyoal Tingkat Keparahan Indeks Panas di Thailand
Pemerintah setempat mengkategorikan indeks panas ke dalam empat tingkat risiko untuk memandu masyarakat, yakni:
Tingkat Waspada (27-32,9 derajat celcius): Masyarakat diminta rutin minum air putih bersih.
Tingkat Peringatan (33-41,9 derajat celcius): Kurangi aktivitas luar ruangan pukul 11.00-15.00.
Tingkat Bahaya (42-51,9 derajat celcius): Kondisi yang dialami Bangkok saat ini. Warga diminta ketat memantau gejala tubuh sendiri.
Tingkat Sangat Berbahaya (lebih dari 52 derajat celcius): Hindari total seluruh aktivitas di luar ruangan.
Beberapa kelompok rentan juga diharapkan untuk menghindari paparan suhu panas yang ekstrem ini. Pemerintah menyebutkan delapan kelompok yang membutuhkan pemantauan medis hingga perawatan khusus, seperti:
Anak-anak balita (usia 0 hingga 5 tahun)
Lansia (usia 60 tahun ke atas)
Wanita hamil
Pengidap penyakit penyerta atau kondisi medis tertentu
Orang dengan obesitas
Orang yang mengonsumsi minuman beralkohol
Pekerja luar ruangan berdurasi lama (seperti pengemudi ojek, kurir pengantar barang, dan pekerja konstruksi)
Orang yang nekat berolahraga di luar ruangan serta para wisatawan.
Efek Suhu Panas Ekstrem pada Kesehatan
Melansir detikhealth, sengatan panas ekstrem tidak boleh dianggap remeh karena dapat berdampak langsung pada keselamatan jiwa. Gejala awal yang biasanya muncul meliputi kelelahan ekstrem, pusing, munculnya ruam, kulit memerah dan bengkak, hingga kram otot.
Jika tanda-tanda ini diabaikan, kondisinya bisa cepat memburuk menjadi heat stroke yang fatal dan mematikan. Anggota fakultas Departemen Ilmu Kesehatan di Central Michigan University, Micah Zuhl, menjelaskan heat stroke merupakan kondisi saat mekanisme yang membantu mendinginkan tubuh yang terpapar panas gagal berfungsi.
Kondisi ini harus segera ditangani, agar tidak semakin parah. Hal ini bisa memicu irama jantung yang berbahaya, cedera jaringan (ginjal, usus, dan otak), sepsis, hingga kematian.
"Hipotalamus di otak adalah pengendali utama suhu tubuh. Informasi dari reseptor kulit, otak, dan darah yang menentukan apakah respons penghangatan atau pendinginan harus diaktifkan," kata Micah, dikutip dari Central Michigan University.
"Selama terpapar lingkungan panas, aliran darah akan diarahkan ke kulit untuk membantu menghilangkan panas. Selain itu, keringat mulai keluar, yang merupakan mekanisme pendinginan utama. Yang penting, keringat harus menguap agar efektif dalam mendinginkan tubuh," lanjutnya.
Kerusakan jaringan terjadi saat suhu tubuh meningkat, yang memicu interaksi kompleks antara peristiwa inflamasi dan koagulopati yang menyerupai sepsis. Saluran pencernaan dianggap sebagai komponen sentral, permeabilitas racun dari usus dapat berpindah ke dalam darah dan memicu peristiwa inflamasi.
Pekerja atau orang yang berolahraga yang mengalami heat stroke sering mengalami kerusakan jaringan otot rangka (misalnya rhabdomyolysis) yang dapat bertepatan dengan kerusakan dan gagal ginjal lebih lanjut.
"Kerusakan multiorgan yang dikombinasikan dengan peristiwa inflamasi pada korban heat stroke telah dikaitkan dengan kelainan pembekuan darah, yang berkisar dari aktivasi faktor pembekuan darah hingga perdarahan yang sering terlihat pada sepsis. Efek sistemik dari serangan panas membuatnya sulit untuk diobati," pungkasnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]