WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fenomena angin kencang melanda wilayah Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, pada Rabu (18/2/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, dan menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 15 unit rumah warga.
Baca Juga:
Hujan Lebat dan Aktivitas Gunung Api Meningkat, BNPB Minta Daerah Perkuat Kesiapsiagaan
Kerusakan paling dominan terjadi pada bagian atap bangunan yang terlepas dan terbawa terjangan angin.
Tim BPBD Kabupaten Tulungagung melakukan penanganan di lokasi terdampak angin kencang yang terjadi pada Rabu (18/2), di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. Sumber foto: BPBD Kabupaten Tulungagung.
Menerima laporan dari masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung segera mengerahkan personel ke lokasi terdampak untuk melakukan penanganan awal.
Baca Juga:
Rangkaian Bencana Landa NTT, Sumut, dan Jabar, BNPB Imbau Siaga Hidrometeorologi
Tim langsung melakukan asesmen, pendataan kerugian, serta membantu warga membersihkan puing-puing material bangunan yang berserakan.
Proses pembersihan dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat setempat guna mempercepat pemulihan kondisi lingkungan.
Hingga laporan terakhir, situasi di lokasi kejadian dilaporkan telah kondusif dan warga mulai kembali beraktivitas secara bertahap.
Sementara itu, bencana tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, pada hari yang sama.
Longsor terjadi di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang berada di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi.
Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia serta menyebabkan sejumlah alat berat tertimbun material longsoran.
Berdasarkan pembaruan data per Kamis (19/2/2026), Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia.
Setelah dilakukan proses identifikasi, jenazah korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Di wilayah lain, pembaruan data juga dilaporkan terkait kejadian banjir di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah.
Tim gabungan melakukan pembersihan pascabanjir yang melanda di Kabupaten Grobogan, pada Rabu (18/2/2026). [Sumber foto: BPBD Kabupaten Grobogan]
Bencana ini berdampak terhadap 10.061 kepala keluarga dan merendam 9.736 unit rumah warga.
Pemerintah daerah setempat telah menetapkan status tanggap darurat yang berlaku mulai 16 Februari hingga 22 Februari 2026 guna mempercepat upaya penanganan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.
Hingga kini, banjir masih menggenangi dua kecamatan, yakni Kecamatan Tegowanu dan Kecamatan Godong.
Tim gabungan melakukan pembersihan pascabanjir yang melanda di Kabupaten Grobogan, pada Rabu (18/2/2026). [Sumber foto: BPBD Kabupaten Grobogan]
Petugas terus melakukan pemantauan kondisi debit air serta distribusi bantuan logistik kepada warga yang terdampak.
Selain Grobogan, banjir juga terjadi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Tercatat sebanyak 8.163 rumah terdampak akibat peristiwa tersebut.
Upaya perbaikan tanggul terus dilakukan dengan mengerahkan alat berat di lokasi terdampak banjir, di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (19/2/2026). [Sumber foto: BPBD Kabupaten Demak]
Meski demikian, air dilaporkan mulai berangsur surut di sejumlah titik.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus mengupayakan perbaikan tanggul dengan mengerahkan alat berat guna mencegah banjir susulan.
Berdasarkan pantauan visual di lapangan, beberapa area persawahan di wilayah Kebonagung, Pilangwetan, dan Tlogosih masih tergenang air. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas pertanian masyarakat setempat.
Upaya perbaikan tanggul terus dilakukan dengan mengerahkan alat berat di lokasi terdampak banjir, di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (19/2/2026). [Sumber foto: BPBD Kabupaten Demak]
Melihat rangkaian kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana, khususnya bahaya hidrometeorologi basah.
Warga yang tinggal di daerah bantaran sungai juga diminta untuk rutin memantau ketinggian muka air serta memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi.
Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, masyarakat diimbau untuk melakukan evakuasi mandiri dan mengetahui jalur evakuasi yang aman.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]