WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat langkah antisipatif dalam menghadapi potensi fenomena El Nino guna memastikan ketersediaan air tetap terjaga.
Upaya ini dinilai krusial untuk menekan dampak musim kemarau panjang, khususnya terhadap sektor pertanian yang menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional.
Baca Juga:
Kementerian PU Digeledah, Seskab Teddy Dukung Kejati DKI
Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan bahwa berbagai strategi mitigasi telah mulai dijalankan, salah satunya melalui optimalisasi fungsi bendungan di sejumlah wilayah.
Pemerintah kini mendorong agar seluruh bendungan dapat berada pada kondisi tampungan maksimal sebelum puncak kemarau datang, sehingga cadangan air dapat dimanfaatkan secara optimal saat curah hujan menurun.
“Kalau masalah mitigasi terhadap bencana el nino itu sebenarnya sudah kita mulai. Bahkan beberapa saat lalu saya ke Gajah Mungkur saya dikasi info, sekarang bendungan sedang posisi berusaha dibikin penuh” ujar Menteri Dody di Kantor Kementerian PU, Jumat 10 April 2026.
Baca Juga:
Kemen PU Apresiasi Peran Generasi Muda dalam Penanganan Bencana di Sumatera
Ia menjelaskan bahwa bendungan dengan kapasitas penuh memiliki peran vital dalam menjaga suplai air untuk irigasi, bahkan tanpa dukungan hujan dalam periode tertentu.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah Waduk Gajah Mungkur yang mampu menopang kebutuhan air pertanian hingga beberapa bulan ke depan.
“Gajah Mungkur tuh kalau penuh dia bisa mengairi sawah di bawahnya tanpa ada hujan sedikit pun. Sampai dengan bulan September-Oktober,” katanya.
Meski demikian, apabila periode tersebut terlampaui dan kekeringan masih berlangsung, Kementerian PU telah menyiapkan langkah lanjutan.
Salah satunya melalui pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di kawasan hulu bendungan guna meningkatkan curah hujan dan menjaga pasokan air tetap stabil.
“Jadi hulu-hulunya dihujani agar tetap turun ke bendungan. Kita tidak melakukan operasi modifikasi cuaca di bendungan, karena kita takut meleset kalau meleset, kita lebih repot lagi,” ucap menteri tersebut.
Selain strategi berbasis cuaca, pemerintah juga menyiapkan solusi teknis berupa penyediaan pompa air untuk mengatasi kekeringan di lahan pertanian.
Program ini dilaksanakan melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian agar pelaksanaannya selaras dan tidak terjadi tumpang tindih kebijakan di lapangan.
Di sisi lain, Dody menekankan pentingnya pembangunan jaringan irigasi tersier sebagai pelengkap distribusi air.
Infrastruktur ini dinilai berperan besar dalam memastikan air yang dialirkan dapat dimanfaatkan secara lebih efektif dan efisien oleh para petani.
“Kita juga harus buka jaringan irigarasi tersiernya, sehingga air yang kita alirkan itu lebih efektif, efisien untuk air disawah. Harapan kami, sawah-sawah kadang hujan itu minimum bisa panen setahun 2 kali, kalau bisa 3 kali, alhamdulillah sekali,” kata Dody.
Menurutnya, pengelolaan sumber daya air yang optimal akan menjadi kunci dalam menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman El Nino.
Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, pemerintah menargetkan lahan pertanian tetap mampu berproduksi secara konsisten, bahkan hingga dua hingga tiga kali panen dalam setahun.
Dody menegaskan bahwa mitigasi El Nino menjadi salah satu prioritas utama pemerintah karena dampaknya yang signifikan terhadap produksi pangan nasional.
Ia mengingatkan, kegagalan dalam pengelolaan air berpotensi menghambat target swasembada pangan yang telah dicanangkan untuk tahun 2026 hingga 2027.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]