WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sidang yang digelar pada 21 Mei 2026 di DPR RI mengungkap detail baru tentang kecelakaan kereta di Bekasi Timur, dengan para penyelidik mengonfirmasi bahwa taksi yang terlibat tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan teknis sebelum kecelakaan terjadi.
Melansir CNBC Indonesia, dalam sidang di hadapan komite Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia yang dihadiri oleh Kementerian Perhubungan, Kepolisian Nasional, operator kereta api, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), beberapa temuan teknis untuk pertama kalinya terungkap, yang memberikan lebih banyak penjelasan tentang penyebab kecelakaan kereta api pada 27 April di Bekasi Timur, Indonesia.
Baca Juga:
Komisi V DPR Desak Pemerintah Transparan Ungkap Penyebab Tabrakan Kereta di Bekasi
Dalam sidang tersebut, KNKT menganalisis penyebab insiden secara terpisah dari tabrakan pertama antara taksi listrik dan kereta komuter KRL 5181 dengan tabrakan kedua yang melibatkan kereta antarkota Argo Bromo Anggrek dan kereta PLB 5568.
Rangkaian kejadian bermula ketika taksi listrik terjebak di perlintasan kereta api tidak resmi dan ditabrak oleh kereta komuter KRL 5181. Peristiwa ini merupakan tabrakan pertama. Setelah menerima laporan mengenai insiden tersebut, kereta PLB 5568 berhenti di jalur terpisah di sebelahnya untuk menunggu instruksi lebih lanjut dan memastikan keselamatan operasional.
Beberapa menit kemudian, PLB 5568 ditabrak dari belakang oleh kereta antarkota Argo Bromo Anggrek, yang menghantam gerbong bagian belakangnya dalam tabrakan kedua yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.
Baca Juga:
KNKT Bongkar Kendala Investigasi Tragedi Kereta Bekasi Timur: Data Digital Sulit Dibuka
Tidak Ditemukan Kerusakan Teknis pada Taksi
Berbicara di hadapan komite parlemen, ketua KNKT mengatakan data yang diambil dari kotak hitam taksi listrik berplat nomor B 2864 SBX menunjukkan tidak adanya kerusakan sistem sebelum tabrakan pertama terjadi.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan data dari perangkat pemantauan kendaraan B 2864 SBX menunjukkan tidak terdapat kesalahan sistem berdasarkan data yang dikumpulkan dalam kurun waktu satu jam sebelum kejadian.