WAHANANEWS.CO, Jakarta - Era baru sepak bola dunia resmi dimiliki Spanyol setelah La Roja bukan hanya merebut trofi Piala Dunia 2026, tetapi juga menciptakan rentetan rekor yang mengukuhkan mereka sebagai salah satu tim nasional terbaik sepanjang sejarah.
Kesuksesan mengalahkan Argentina 1-0 pada partai final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026) waktu setempat menjadi penutup sempurna perjalanan Spanyol yang dipenuhi berbagai catatan bersejarah.
Baca Juga:
Gila! Spanyol Sapu Bersih Gelar Piala Dunia 2026 dengan Rekor Tak Terkalahkan
Gelar tersebut merupakan trofi Piala Dunia kedua yang berhasil diraih Spanyol setelah sebelumnya menjadi juara pada edisi 2010 di Afrika Selatan.
Menariknya, kedua gelar itu sama-sama diraih melalui kemenangan 1-0 setelah pertandingan harus berlanjut hingga babak perpanjangan waktu.
Jika pada 2010 Andres Iniesta menjadi penentu kemenangan atas Belanda, maka kali ini Ferran Torres tampil sebagai pahlawan lewat golnya ke gawang Argentina pada menit ke-106.
Baca Juga:
Spanyol Kembali ke Singgasana Dunia, Argentina Dipaksa Menyerah Lewat Drama 120 Menit
Keberhasilan mengangkat trofi dunia juga memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 38 pertandingan internasional secara beruntun.
Catatan tersebut membuat La Roja resmi melewati rekor milik Italia yang sebelumnya bertahan di angka 37 pertandingan tanpa kekalahan.
Rentetan hasil impresif itu sekaligus menjadi bukti konsistensi Spanyol sejak menjuarai Euro 2024 hingga akhirnya menguasai panggung Piala Dunia 2026.
Kekuatan utama Spanyol sepanjang turnamen terlihat dari kokohnya sektor pertahanan.
Sepanjang delapan pertandingan, skuad asuhan Luis de la Fuente hanya kebobolan satu gol.
Catatan tersebut menjadikan Spanyol sebagai tim juara dengan jumlah kebobolan paling sedikit sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.
Ketangguhan lini belakang tidak lepas dari performa gemilang Unai Simon di bawah mistar gawang serta disiplin para pemain bertahan dalam menjaga organisasi permainan.
Selain rekor tim, sejumlah pencapaian individu juga lahir sepanjang turnamen.
Ferran Torres tercatat sebagai pemain pengganti kedua dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mencetak gol kemenangan pada partai final.
Sebelumnya, rekor serupa hanya pernah dibukukan Mario Gotze ketika membawa Jerman mengalahkan Argentina pada final Piala Dunia 2014.
Keberhasilan Spanyol juga mengakhiri harapan Argentina untuk mempertahankan gelar juara dunia.
Kekalahan di final membuat Argentina gagal menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan trofi Piala Dunia.
Catatan tersebut menegaskan betapa sulitnya mempertahankan status sebagai juara dunia dalam kompetisi sepak bola paling bergengsi tersebut.
Pencapaian Spanyol tidak hanya berhenti pada torehan statistik di lapangan.
Keberhasilan La Roja juga menandai berakhirnya proses regenerasi panjang setelah generasi emas yang pernah dihuni Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, hingga Iker Casillas.
Kini, wajah baru sepak bola Spanyol diisi oleh kombinasi pemain senior dan talenta muda seperti Rodri, Lamine Yamal, Nico Williams, Pau Cubarsi, Pedri, serta Mikel Merino.
Perpaduan pengalaman dan energi muda tersebut menjadi fondasi lahirnya generasi juara baru yang sukses mengembalikan Spanyol ke puncak sepak bola dunia.
Keberhasilan itu sekaligus mempertegas bahwa dominasi Spanyol bukan sekadar lahir dari satu turnamen, melainkan hasil proses pembinaan, regenerasi, dan konsistensi permainan yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan koleksi dua gelar Piala Dunia, rekor 38 laga tak terkalahkan, pertahanan terbaik sepanjang sejarah turnamen, serta lahirnya generasi baru yang penuh talenta, La Roja kini menempatkan dirinya sebagai salah satu tim nasional paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola internasional.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]