WAHANANEWS.CO, Jakarta - Penguatan peran generasi muda menjadi salah satu fokus utama dalam keketuaan Indonesia di Developing Eight (D-8) periode 2026–2027.
Komitmen tersebut mencuat dalam Forum Tematik Bakohumas yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) di Ruang Serbaguna Kantin Diplomasi, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga:
Dialog Mahasiswa dan BPODT Jadi Momentum Baru, MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Akselerasi Danau Toba
Forum ini membahas arah kebijakan strategis sekaligus pola komunikasi publik terkait kepemimpinan Indonesia di organisasi kerja sama negara-negara berkembang tersebut.
Para peserta menekankan pentingnya penguatan narasi publik agar berbagai agenda dan inisiatif internasional Indonesia tidak hanya dipahami oleh kalangan diplomat, tetapi juga menjangkau masyarakat luas secara inklusif.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Fifi Aleyda Yahya, menyampaikan bahwa kepemimpinan global membutuhkan legitimasi yang dibangun melalui komunikasi yang kuat dan kepercayaan publik.
Baca Juga:
Mojang Jajaka Sumedang Ajak Generasi Muda Aktif Lewat Rumah Imperium Gathering
“Masih ada ruang untuk membangun narasi-narasi baik bagi pemerintah. Kepercayaan adalah mata uang kepemimpinan global. Keketuaan D-8 adalah kesempatan bagi Indonesia yang tidak hanya bergema di ruang konferensi internasional, tetapi juga harus terasa bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Tri Tharyat, menegaskan bahwa kepemimpinan Indonesia di D-8 harus mampu menghadirkan manfaat konkret bagi rakyat.
Menurutnya, posisi strategis Indonesia di forum internasional perlu diiringi dengan dampak nyata terhadap sektor-sektor produktif dalam negeri.
“Kepemimpinan global tidak hanya ditunjukkan kepada masyarakat internasional, tetapi juga harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia sendiri. Apa manfaatnya bagi para petani kita? Bagi pelaku UMKM kita? Keketuaan D-8 harus menjawab pertanyaan tersebut,” katanya.
Dalam konteks kerja sama sosial budaya dan kemitraan strategis, isu kepemudaan menjadi salah satu pilar kolaborasi selama masa keketuaan Indonesia.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) untuk memperkuat agenda kepemudaan dalam kerangka D-8.
Fokusnya meliputi peningkatan kapasitas dan peran pemuda dalam diplomasi ekonomi, transisi energi, serta pengembangan inovasi lintas negara, terutama menjelang dan selama masa keketuaan Indonesia pada 2026.
Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis Kemlu RI, Ary Aprianto, menjelaskan bahwa berbagai forum pemuda terus didorong untuk memastikan suara generasi muda terakomodasi dalam arsitektur kerja sama pembangunan antarnegara berkembang.
"OIC Youth Indonesia aktif mendorong forum pemuda dan jejaring kolaborasi lintas negara, termasuk D-8 Youth Dialogue 2025, untuk mengintegrasikan suara pemuda dalam arsitektur kerja sama pembangunan. Selain itu, Kemlu juga bekerja sama dengan Kemendag, Kemenpar, Kemen-Ekraf, dan kementerian lainnya,” jelasnya.
Forum Tematik Bakohumas ini sekaligus menjadi ruang koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna menyampaikan informasi yang utuh, selaras, dan mudah dipahami publik mengenai keketuaan Indonesia di D-8.
Melalui sinergi antarsektor, partisipasi generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi simbolis, tetapi benar-benar terintegrasi dalam berbagai agenda pembangunan nasional dan kerja sama antarnegara berkembang yang berkelanjutan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]