WAHANANEWS.CO, Jakarta – Liga Primer Inggris masih mempertahankan statusnya sebagai kompetisi sepak bola dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.
Pendapatan dari hak siar televisi, kerja sama sponsor, penjualan komersial, hingga investasi terus meningkat dari musim ke musim.
Baca Juga:
Manchester City Resmi Boyong Wonderkid Leicester Jeremy Monga, Kontrak hingga 2031
Namun di balik besarnya pemasukan tersebut, sebagian besar klub justru diperkirakan belum mampu mencatatkan keuntungan.
Berdasarkan laporan harian Spanyol, AS, perusahaan konsultan BDO memproyeksikan sekitar 90 persen klub yang berlaga di empat kasta teratas sepak bola Inggris akan mengalami kerugian finansial.
Prediksi tersebut muncul meskipun nilai kontrak hak siar dan pemasukan komersial Liga Inggris terus menunjukkan tren pertumbuhan setiap tahunnya.
Baca Juga:
Erling Haaland Resmi Jadi Pencetak 100 Gol Tercepat Sepanjang Era Liga Inggris
Kondisi itu mencerminkan tingginya beban biaya operasional yang harus ditanggung klub-klub peserta.
Pengeluaran untuk gaji pemain yang terus meningkat, biaya operasional klub, hingga mahalnya nilai transfer pemain menjadi faktor utama yang membuat kondisi keuangan banyak klub berada dalam tekanan.
Salah satu contoh datang dari Liverpool. Klub raksasa Merseyside tersebut saat ini dikabarkan sedang menjajaki penjualan hingga 49 persen saham minoritas kepada investor baru.
Konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia bersama keluarga Mittal disebut-sebut menjadi calon investor dengan nilai transaksi yang diperkirakan mencapai 6 miliar dolar Amerika Serikat.
Berbeda dengan Liverpool yang masih memiliki daya tarik besar bagi investor, Leicester City justru menghadapi situasi yang jauh lebih berat.
Grup King Power selaku pemilik klub telah resmi menawarkan Leicester kepada calon investor baru setelah klub mengalami tekanan finansial sekaligus terdegradasi dari Liga Primer Inggris.
Klub yang pernah menciptakan sejarah dengan menjuarai Liga Inggris pada musim 2015-2016 itu dilaporkan membukukan kerugian sebesar 71,1 juta pound sterling.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kesuksesan di atas lapangan tidak selalu sejalan dengan kesehatan finansial sebuah klub.
Sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi kompetisi, Liga Primer Inggris akan mulai menerapkan regulasi keuangan baru pada musim 2026-2027.
Aturan tersebut membatasi total pengeluaran untuk pemain, termasuk gaji dan biaya terkait lainnya, maksimal sebesar 85 persen dari total pendapatan klub.
Mitra pengelola Channel Associados, Moises Assayag, menilai kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia itu kini tengah menghadapi tantangan yang cukup besar meskipun secara bisnis masih menjadi liga paling bernilai.
"Liga Primer Inggris sedang berada dalam fase yang rumit. Meski pendapatan dari sponsor dan hak siar meningkat, klub-klub di liga terkaya di dunia menemui kesulitan untuk meraih keuntungan," ujar Moises Assayag dalam keterangannya seperti dilansir AS, dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
Di sisi lain, tekanan finansial tersebut tidak mengurangi agresivitas klub-klub Inggris dalam memburu pemain baru.
Berdasarkan data Transfermarkt, total belanja klub-klub Liga Primer Inggris pada bursa transfer musim panas 2026 telah mencapai sekitar 1,39 miliar euro.
Nilai tersebut menjadi yang tertinggi di antara lima liga elite Eropa. Serie A Italia berada di posisi kedua dengan total pengeluaran sekitar 585,5 juta euro, disusul Bundesliga Jerman sebesar 434,2 juta euro, LaLiga Spanyol sekitar 307 juta euro, serta Ligue 1 Prancis yang mencatatkan belanja sekitar 245 juta euro.
Dominasi Liga Primer Inggris juga terlihat dari aktivitas transfer pemain. Empat dari lima transaksi termahal pada bursa transfer musim panas 2026 melibatkan klub-klub Inggris.
Fakta ini semakin memperlihatkan besarnya daya beli klub-klub Liga Inggris, meskipun kondisi keuangan sebagian besar dari mereka tengah menjadi sorotan.
Direktur Eksekutif Foot Pro, Verediano Pinheiro, menilai industri sepak bola saat ini telah berkembang jauh melampaui sekadar olahraga.
Menurutnya, sepak bola kini menjadi industri hiburan global yang menawarkan potensi bisnis sangat besar sehingga menarik minat investor dari berbagai negara.
Sementara itu, CEO P&P Sport Management, Claudio Fioretto, mengatakan tren investasi dalam dunia sepak bola kini mulai bergeser.
Jika sebelumnya investor lebih banyak berfokus pada pembelian pemain, kini perhatian mulai beralih kepada kepemilikan saham klub.
Menurutnya, klub sepak bola telah berkembang menjadi aset bisnis bernilai miliaran dolar dengan prospek investasi yang semakin menjanjikan di tingkat global.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]