WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sejarah kembali tercipta di panggung pacuan kuda dunia setelah Caladangan, kuda andalan kontingen Prancis, berhasil merebut gelar juara Japan Cup 2025.
Kemenangan ini terasa semakin istimewa karena sekaligus mengakhiri dominasi Jepang yang selama 20 tahun terakhir selalu menjadi pemenang dalam ajang bergengsi tersebut.
Baca Juga:
Tumbangkan Spanyol, Italia Ukir Rekor Bersejarah Tiga Kali Juara Piala Davis
Dikendalikan oleh sang joki, Mickael Barzalona, Caladangan tampil impresif sepanjang balapan dan mencatatkan waktu sensasional 2:20.3.
Catatan ini bukan hanya menempatkannya sebagai yang tercepat, tetapi juga memecahkan rekor lama yang sebelumnya dimiliki Almond Eye kuda betina asal Jepang yang menang pada 2018 dengan waktu 2:23.0.
Di belakang Caladangan, kuda Jepang Masquerade Ball menyusul ketat dengan selisih tipis atau head margin.
Baca Juga:
PORDASI Umumkan Jadwal Kejurnas Pacuan Kuda Seri II di Sultan Agung
Dalam konferensi pers seusai perlombaan di Arena Pacuan Kuda Tokyo, Minggu (30/11/2025), Barzalona mengekspresikan rasa bangganya terhadap performa Caladangan yang disebutnya luar biasa.
“Sangat bagus, misi telah berhasil diselesaikan. Ini adalah target besar baginya, dan kami sangat bangga padanya,” ujar Barzalona usai Japan Cup edisi ke-45.
Ia juga menegaskan kualitas Caladangan yang selama ini ia kenal. “Dia adalah kuda yang sangat berbakat. Hari ini dia telah membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah yang terbaik di dunia saat ini.”
Prestasi ini melengkapi rentetan kemenangan Caladangan yang sebelumnya telah menjuarai dua balapan Grade 1 (G1) secara berturut-turut, yakni King George VI and Queen Elizabeth Stakes serta Grand Prix de Saint-Cloud.
Deretan gelar itu membuat Caladangan datang ke Jepang sebagai salah satu kandidat terkuat, dan ia membuktikannya dengan penampilan yang konsisten dari start hingga garis akhir.
Gelaran Japan Cup 2025 juga diwarnai insiden unik di awal balapan. Sesaat setelah pintu start terbuka, joki asal Jepang, Yuga Kawada, terjatuh dari kuda Admire Terra akibat kehilangan keseimbangan.
Meski tanpa joki, Admire Terra tetap berlari kencang hingga mencapai garis finish dan bahkan melampaui Caladangan.
Namun, sesuai regulasi pacuan kuda internasional, kuda yang berlari tanpa joki otomatis didiskualifikasi, sehingga kemenangan sah tetap menjadi milik Caladangan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]