WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kematian tragis seorang anggota polisi di Papua Tengah memicu pengerahan ratusan personel bersenjata lengkap untuk meredam situasi yang sempat memanas.
Kepolisian Negara Republik Indonesia mengirimkan ratusan personel Brimob dan tim gabungan ke Papua Tengah sebagai langkah penguatan pengamanan pasca dugaan penganiayaan berat yang menewaskan Brigadir Dua Juventus Edowai.
Baca Juga:
Senjata dan Amunisi Disita, KKB Kocar-kacir Usai Baku Tembak dengan TNI
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas eskalasi situasi keamanan yang terjadi di wilayah Kabupaten Dogiyai dan sekitarnya.
Dalam keterangan tertulis pada Minggu (5/4/2026), Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko menyampaikan tujuan pengiriman pasukan tersebut.
“Kami juga mengedepankan pendekatan humanis serta penegakan hukum terhadap para pelaku kekerasan,” kata dia.
Baca Juga:
Kapolres Jamin Stabilitas Nabire, Warga Diminta Tak Terprovokasi
Peristiwa penganiayaan terhadap Bripda Juventus Edowai disebut dilakukan oleh orang tak dikenal di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Namun hingga kini, pihak kepolisian belum mengungkap secara rinci kronologi maupun pelaku di balik kejadian yang merenggut nyawa anggota tersebut.
Sebanyak 148 personel gabungan diterjunkan ke Papua Tengah yang terdiri dari 100 anggota Brimob, 10 personel Badan Intelijen dan Keamanan, serta 20 anggota Bareskrim.
Mereka diberangkatkan pada Ahad dini hari sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan maskapai Batik Air dengan tujuan Nabire sebagai titik awal penugasan.
Situasi keamanan di Papua Tengah, khususnya di wilayah Moanemani dan Kabupaten Dogiyai, sempat mencekam setelah kematian Bripda Juventus pada Selasa (31/3/2026).
Pasca insiden tersebut, aparat keamanan diduga melakukan penyisiran di sejumlah titik sambil melepaskan tembakan.
Data yang dihimpun Amnesty International mencatat adanya korban jiwa dari kalangan warga sipil akibat rangkaian kekerasan tersebut.
Tiga warga sipil yang dilaporkan meninggal dunia adalah Ester Pigai (60) yang terkena tembakan di badan, Siprianus Tibakoto (18) yang tertembak di bagian belakang kepala, serta Martinus Yobe atau Yoseph Yobe yang mengalami luka tembak di bagian perut.
Kekerasan juga disertai aksi pembakaran dua unit mobil oleh pihak tak dikenal, sementara pengemudi dilaporkan berhasil melarikan diri ke dalam hutan.
Dalam keterangan tertulis pada Kamis (2/4/2026), Deputi Direktur Amnesty International Indonesia Wirya Adiwena menyoroti eskalasi konflik yang terjadi.
"Tragedi yang bermula dari pembunuhan seorang polisi ini dengan cepat tereskalasi menjadi rentetan peristiwa berdarah yang turut merenggut nyawa masyarakat sipil," kata dia.
Sementara itu, Juru Bicara Jaringan Damai Papua sekaligus advokat HAM Yan Christian Warinussy mengungkapkan jumlah korban sipil diduga lebih banyak dari data awal.
Ia menyebut korban meninggal akibat tembakan senjata api mencapai sembilan orang yang diduga berkaitan dengan aksi balasan atas kematian Bripda Juventus.
Yan juga mendesak Komnas HAM RI untuk segera membentuk tim investigasi independen guna menelusuri dugaan pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut.
“Kasus Dogiyai tidak bisa diselesaikan hanya sekedar melalui jalan mediasi dan bayar membayar adat semata. Penyelesaian hukum atas dugaan pelanggaran HAM berat mesti menjadi pertimbangan semua pihak," katanya.
Ia turut meminta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk memerintahkan jajarannya menghentikan tindakan sewenang-wenang terhadap warga sipil di wilayah terdampak.
Di sisi lain, Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah Brigadir Jenderal Jeremias Rontini membenarkan bahwa kekerasan sempat berlanjut hingga Selasa malam setelah insiden awal terjadi.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah personel kepolisian yang melakukan patroli sempat diserang hingga mengalami luka-luka.
Selain itu, serangan juga terjadi terhadap Markas Polres Dogiyai yang menyebabkan seorang anggota polisi terluka akibat terkena anak panah di bagian bahu belakang.
Dalam pernyataan di Nabire pada Rabu malam (1/4/2026), Jeremias memastikan kondisi mulai berangsur kondusif.
"Situasi di wilayah Kabupaten Dogiyai saat ini dalam keadaan aman dan terkendali. Kami mengimbau masyarakat tidak terprovokasi isu-isu yang berkembang dan mempercayakan penanganan kepada aparat TNI dan Polri," kata dia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]