WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia sedang tidak baik-baik saja, karena survei global Gallup menunjukkan kemarahan, stres, dan frustrasi masih menjadi beban emosional jutaan warga di berbagai negara sepanjang 2026.
Dalam laporan emosi global yang dikutip Selasa (9/6/2026), Gallup menemukan sekitar satu dari lima orang dewasa di dunia mengaku merasakan kemarahan pada hari sebelum mereka diwawancarai.
Baca Juga:
Viral Dugaan Pesta Sesama Jenis, THM di Karawang Langsung Disegel Satpol PP
Temuan itu diperoleh Gallup melalui wawancara telepon dan tatap muka terhadap responden berusia 15 tahun ke atas di 144 negara dan wilayah.
Mengutip Facts Institute, negara-negara dengan tingkat kemarahan tertinggi umumnya berada dalam tekanan besar akibat krisis kemanusiaan, konflik berkepanjangan, instabilitas politik, hingga keruntuhan ekonomi.
Chad menempati posisi teratas sebagai negara dengan penduduk paling mudah marah di dunia setelah 47 persen respondennya mengaku mengalami kemarahan sehari sebelum survei dilakukan.
Baca Juga:
Bupati Muara Enim Edison Terseret OTT KPK, Dugaan Duit Proyek Pendidikan Mulai Terbongkar
Berikut 10 negara paling pemarah di dunia menurut survei Gallup:
Chad: 47 persen
Yordania: 46 persen
Armenia: 43 persen
Irak: 40 persen
Sierra Leone: 40 persen
Guinea: 39 persen
Republik Demokratik Kongo: 38 persen
Palestina: 38 persen
Iran: 37 persen
Maroko: 37 persen
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarahan publik tidak berdiri sendiri sebagai persoalan psikologis, tetapi berkaitan erat dengan tekanan sosial, ekonomi, keamanan, dan kualitas hidup sehari-hari.
“Secara global, sekitar satu dari lima orang mengalami kemarahan pada hari sebelumnya,” demikian temuan utama dalam laporan emosi global Gallup.
Laporan tersebut juga mencatat sejumlah negara di Timur Tengah dan kawasan sekitarnya, seperti Irak, Iran, Yordania, Lebanon, dan Turki, memiliki tingkat kemarahan yang relatif tinggi.
Fakta itu memperlihatkan bahwa kawasan yang berulang kali menghadapi ketegangan geopolitik, tekanan ekonomi, dan konflik sosial cenderung memiliki beban emosional masyarakat yang lebih berat.
Irak menjadi salah satu contoh negara yang secara rutin masuk dalam daftar negara paling pemarah karena masih bergulat dengan dampak panjang invasi pimpinan Amerika Serikat pada 2003.
Sejak masa itu, Irak menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas politik, keamanan, dan ketertiban sosial di tengah upaya membangun kembali kehidupan masyarakat.
Palestina juga masuk dalam daftar tersebut karena konflik berkepanjangan, pembatasan, dan tekanan ekonomi terus memengaruhi kehidupan warga sehari-hari.
Banyak warga Palestina hidup dalam situasi tidak pasti, sehingga rasa frustrasi dan kemarahan menjadi bagian dari tekanan sosial yang terus menumpuk.
Republik Demokratik Kongo atau DRC menjadi gambaran paling jelas tentang hubungan antara konflik, krisis kemanusiaan, dan tingginya tingkat kemarahan masyarakat.
Negara tersebut secara konsisten disebut sebagai salah satu wilayah yang paling parah terdampak konflik, dengan jutaan penduduk menghadapi pengungsian, kelaparan, wabah penyakit, dan kesulitan ekonomi.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebanyak 27,7 juta orang di Republik Demokratik Kongo mengalami kelaparan akut pada 2025.
Lebih dari 7,8 juta orang juga dilaporkan mengungsi di berbagai wilayah negara tersebut akibat kekerasan yang terus meningkat.
Konflik yang meluas telah mengganggu mata pencaharian warga, memperburuk inflasi, dan membatasi akses masyarakat terhadap makanan serta bantuan kemanusiaan.
Situasi pengungsian di kamp-kamp sementara turut memperbesar risiko kesehatan, termasuk munculnya wabah kolera dan campak.
Pada 2026, DRC juga menghadapi wabah Ebola baru di Provinsi Ituri dan Kivu Utara yang selama ini dikenal sebagai wilayah terdampak konflik.
“Banyak negara yang paling marah di dunia sedang menghadapi ketidakstabilan politik atau ekonomi, atau berjuang dengan dampak perang,” tulis Facts Institute dalam ulasannya.
Meski daftar negara paling marah didominasi wilayah yang dilanda tekanan berat, survei tersebut juga menampilkan sisi berlawanan dari peta emosi global.
Vietnam menjadi negara dengan tingkat kemarahan terendah di dunia, yakni hanya 5 persen responden yang mengaku marah pada hari sebelum diwawancarai.
Finlandia yang dikenal sebagai negara paling bahagia di dunia selama sembilan tahun berturut-turut juga mencatat tingkat kemarahan rendah dengan angka 5 persen.
Berikut 10 negara dengan tingkat kemarahan terendah:
Vietnam: 5 persen
Finlandia: 5 persen
Meksiko: 7 persen
Islandia: 7 persen
Kosovo: 7 persen
Portugal: 8 persen
Mauritius: 8 persen
Estonia: 8 persen
Kroasia: 8 persen
Kazakhstan: 8 persen
Perbandingan ini menunjukkan bahwa indikator kesejahteraan masyarakat tidak hanya dapat dibaca dari kekuatan ekonomi atau angka produk domestik bruto.
Kesehatan mental, rasa aman, stabilitas sosial, dan kualitas hidup emosional kini semakin penting untuk melihat apakah sebuah negara benar-benar berhasil melindungi warganya.
Laporan tersebut menjadi alarm keras bagi para pemimpin dunia bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.
Negara juga perlu memastikan warganya tidak hidup dalam tekanan berkepanjangan yang membuat kemarahan, stres, dan frustrasi berubah menjadi wajah sehari-hari masyarakat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]