WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang euforia investasi kecerdasan buatan (AI) mendadak berubah arah setelah pasar menghukum perusahaan-perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) yang dinilai terlalu agresif menggelontorkan dana, sementara saham pemasok infrastruktur AI justru menjadi magnet baru bagi investor sepanjang pekan ini.
Perubahan arah investasi itu paling terasa pada Alphabet selaku induk Google dan Tesla yang kehilangan nilai pasar hampir 500 miliar dollar AS atau sekitar Rp 8.961 triliun dalam sepekan, memperlihatkan bahwa investor kini tidak lagi hanya terpikat pada besarnya investasi AI, tetapi mulai menuntut bukti nyata berupa keuntungan dan arus kas yang sehat.
Baca Juga:
Perusahaan Ini Pakai AI, Produksi Bermasalah Akhirnya Rekrut Lagi Pegawai yang di-PHK
Mengutip data Yahoo Finance, Sabtu (25/7/2026), pasar mulai mempertanyakan efektivitas belanja AI dalam menghasilkan profit jangka panjang sehingga perusahaan yang sebelumnya dipuji karena ekspansi besar-besaran kini justru menghadapi tekanan.
Sepanjang perdagangan pekan ini, Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Tesla yang dikenal sebagai kelompok perusahaan dengan belanja AI terbesar mencatat rata-rata penurunan harga saham sekitar 9 persen.
Sebaliknya, perusahaan yang memasok kebutuhan infrastruktur AI seperti produsen chip, pembuat server, hingga operator pusat data menikmati lonjakan harga saham rata-rata sekitar 11 persen karena dinilai memperoleh manfaat langsung dari ledakan investasi AI tersebut.
Baca Juga:
PLN Amankan Pasokan Listrik Data Center BDx, ALPERKLINAS: Indonesia Butuh Infrastruktur Digital yang Berdaulat
Kondisi paling mencolok dialami Alphabet yang sebenarnya membukukan kinerja operasional sangat kuat pada kuartal terbarunya.
Pendapatan perusahaan meningkat 24 persen secara tahunan, sedangkan bisnis Google Cloud melonjak hingga 82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, laporan keuangan tersebut gagal mengangkat kepercayaan pasar karena perhatian investor justru tertuju pada besarnya belanja modal perusahaan.