WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di masa kini daging babi hampir tidak ditemukan dalam menu makanan mayoritas masyarakat Timur Tengah, namun sejarah justru mencatat bahwa hewan tersebut pernah menjadi salah satu sumber pangan utama di kawasan yang kini dikenal sebagai Tanah Arab.
Temuan para arkeolog dan peneliti menunjukkan babi bukanlah hewan asing bagi masyarakat Timur Tengah kuno bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari selama ribuan tahun.
Baca Juga:
Jangan Terlewat, Seleksi Anggota Badan Supervisi OJK Dibuka Sampai 12 Juni 2026
Penelitian tim dari Kiel University, Jerman, dalam kajian berjudul Into Early Pig Domestication Provided by Ancient DNA Analysis yang dipublikasikan pada 2017 mengungkap bahwa domestikasi babi pertama kali terjadi di kawasan Mesopotamia sekitar 8.500 tahun sebelum Masehi.
Dari wilayah tersebut, babi kemudian menyebar ke berbagai kawasan lain termasuk Eropa untuk dikembangbiakkan dalam skala yang lebih luas.
Karena telah dijinakkan sejak masa awal peradaban, babi juga menjadi salah satu hewan ternak yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan oleh masyarakat Timur Tengah kuno.
Baca Juga:
WhatsApp Siapkan Fitur Baru, Pesan Penipuan Bakal Langsung Kena Peringatan
Catatan arkeologi dari periode 5.000 hingga 2.000 tahun sebelum Masehi menunjukkan masyarakat saat itu memelihara babi selama berbulan-bulan sebelum akhirnya dipotong untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga dan komunitas mereka.
Pada masa tersebut, popularitas babi sebagai sumber pangan mampu bersaing dengan berbagai jenis hewan ternak lainnya.
Namun kondisi tersebut mulai berubah sekitar tahun 1.000 sebelum Masehi ketika jumlah babi yang dipelihara dan dikonsumsi masyarakat perlahan mengalami penurunan drastis.
Para ilmuwan dan sejarawan memiliki sejumlah teori yang mencoba menjelaskan mengapa babi akhirnya kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat Jazirah Arab.
Salah satu teori paling terkenal datang dari antropolog Marvin Harris melalui bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir yang menghubungkan fenomena tersebut dengan kondisi lingkungan dan ekologi Timur Tengah.
Menurut Harris, babi merupakan hewan yang membutuhkan sumber daya jauh lebih besar dibandingkan beberapa jenis ternak lainnya.
Seekor babi disebut dapat membutuhkan sekitar 6.000 liter air untuk berkembang biak sehingga kebutuhan air akan meningkat sangat besar apabila dipelihara dalam jumlah banyak.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius mengingat sebagian besar wilayah Timur Tengah didominasi kawasan gurun yang memiliki ketersediaan air terbatas.
"Babi mungkin enak, tetapi memberi makan binatang itu dan menjaganya tetap sejuk akan terlalu banyak menyita sumber daya," ungkap Marvin Harris.
Selain kebutuhan air yang tinggi, Harris juga menyoroti pola makan babi yang dianggap kurang cocok dengan kondisi wilayah tersebut.
Babi tidak dapat mengonsumsi rumput seperti kambing atau domba sehingga membutuhkan makanan berupa kacang-kacangan, buah-buahan, dan gandum yang juga menjadi kebutuhan manusia.
Dalam situasi sumber daya terbatas, masyarakat lebih memilih mengalokasikan bahan pangan tersebut untuk kebutuhan keluarga dibandingkan digunakan sebagai pakan ternak.
Atas dasar itulah Harris menilai faktor ekologi menjadi salah satu alasan utama mengapa pemeliharaan dan konsumsi babi perlahan ditinggalkan.
Pandangan berbeda kemudian dikemukakan oleh sejarawan Richard W. Redding dalam penelitian berjudul The Pig and the Chicken in the Middle East yang dipublikasikan pada 2015.
Richard mengakui bahwa kebutuhan air babi memang cukup besar, namun menurutnya faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab menurunnya konsumsi babi di Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa gaya hidup nomaden yang dijalani sebagian masyarakat Arab membuat pemeliharaan babi menjadi kurang praktis.
Ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, babi dianggap kurang mampu beradaptasi dibandingkan hewan ternak lain yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras.
Menurut Richard, faktor yang lebih menentukan justru adalah kemunculan ayam sebagai sumber protein yang lebih efisien bagi rumah tangga masyarakat Arab.
Ayam dinilai lebih mudah dipelihara, membutuhkan sumber daya lebih sedikit, dan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu.
Selain menghasilkan daging, ayam juga memberikan manfaat tambahan berupa telur yang dapat dikonsumsi setiap hari sebagai sumber protein.
Ukuran ayam yang lebih kecil juga membuat hasil pemotongannya dapat langsung dikonsumsi tanpa menyisakan banyak daging yang berpotensi terbuang karena saat itu teknologi pengawetan makanan belum berkembang.
"Dalam keadaan seperti ini, ayam jadi sumber protein utama. [...] Hal ini membuat babi menjadi tidak diperlukan lagi," tulis Richard.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Timur Tengah semakin mengandalkan ayam dan berbagai jenis ternak lain sehingga posisi babi sebagai sumber pangan utama perlahan tergeser.
Akibatnya, jumlah babi yang dipelihara terus menurun dan konsumsi daging babi semakin jarang ditemukan di kawasan tersebut.
Meskipun demikian, sejarah menunjukkan bahwa babi pernah memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Timur Tengah jauh sebelum akhirnya tersingkir oleh perubahan lingkungan, budaya, dan pola konsumsi masyarakat setempat.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]