WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nama bayi yang tak biasa ini mendadak mengguncang perhatian hingga level internasional, ketika seorang warga Riau didatangi langsung perwakilan Kedutaan Besar Iran usai menamai anaknya Ali Khamenei, pada Rabu (8/4/2025).
Arsa Putra (51) awalnya tak pernah menyangka bahwa nama yang ia pilih untuk buah hatinya akan menghadirkan perhatian luas, bahkan hingga ke lingkup diplomatik antarnegara.
Baca Juga:
Ancaman Trump Soal Penutupan Selat Hormuz, Iran Respons Tuntut Konpensasi
Bayi yang diberi nama Ali Khamenei tersebut kemudian viral di media sosial dan menjadi perbincangan publik, hingga akhirnya menarik perhatian pihak Kedutaan Besar Iran.
Beberapa hari setelah viral, perwakilan Kedubes Iran datang langsung ke rumah Arsa yang berada di Desa Koto Tibun, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau.
"Kemarin perwakilan Kedubes Iran datang bertamu ke rumah kami. Mereka menyampaikan apresiasi pemberian nama bayi kami Ali Khamenei," kata Arsa pada wartawan.
Baca Juga:
Ajakan Trump Minta Gencatan Senjata, Iran Tolak Mentah-Mentah
Kunjungan tersebut menjadi pengalaman tak terduga bagi keluarga Arsa, yang sebelumnya tidak pernah membayangkan akan mendapatkan perhatian langsung dari pihak luar negeri.
"Kedubes Iran memberikan apresiasi dan merasa bangga. Bahkan dimuat di media Iran. Rupanya, tanpa disangka perwakilan Kedubes datang ke rumah kami. Ini suatu kebanggaan dan kehormatan bagi kami," ujar Arsa.
Di balik pemberian nama tersebut, Arsa mengungkapkan bahwa ada harapan besar yang ia sematkan kepada sang anak, bukan sekadar nama tanpa makna.
Ia bahkan mengaku telah meminta izin terlebih dahulu kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia sebelum menggunakan nama tersebut.
"Kami sudah diberi izin penggunaan nama tersebut. Tujuan kami buat nama itu, agar anak kami menjadi ulama dan pemimpin yang besar seperti Ali Khamenei," ucapnya.
Ali Khamenei sendiri dikenal sebagai sosok yang selama lebih dari tiga dekade memegang kekuasaan tertinggi di Iran dan memiliki pengaruh besar dalam arah politik serta kebijakan negara tersebut.
Namanya kembali menjadi sorotan dunia setelah dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, yang kemudian memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Sejak peristiwa tersebut, ketegangan militer, serangan balasan, hingga kekhawatiran meluasnya konflik terus membayangi kawasan tersebut.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]