WahanaNews.co | Yasuo Takamatsu kehilangan istrinya, Yuko, dalam tsunami Jepang 2011, tetapi 11 tahun kemudian dia masih menyelam berharap bisa menemukan pasangannya setiap minggu.
Takamatsu melakukan scuba diving sejak 2013 dalam upaya putus asa untuk menemukan tubuh istrinya yang hilang di Onagawa, salah satu daerah yang paling parah terdampak gempa dan tsunami saat itu.
Baca Juga:
Tsunami Dahsyat 1674 di Ambon: BMKG Ingatkan Ancaman yang Masih Mengintai
Gempa bumi bawah laut di lepas pantai timur Jepang menyebabkan tsunami Tohoku yang menghancurkan pada 11 Maret 2011.
Hampir setengah juta orang kehilangan tempat tinggal dan hampir 20.000 orang tewas akibat bencana.
Suami yang penuh kasih itu berkata bahwa dia akan terus mencari di darat dan laut “selama (tubuhnya) bergerak.”
Baca Juga:
Gempa 6.8 M di Jepang, Ini Penjelasan BMKG Soal Dampaknya di Indonesia
Lebih dari 2.500 orang masih dilaporkan hilang akibat tsunami Jepang 2011.
Takamatsu berhasil menemukan telepon istrinya di tempat parkir bank tempat dia bekerja berbulan-bulan setelah bencana, tetapi pria itu tidak menemukan apa pun sejak itu.
Dia mengatakan, gagasan untuk bertahan hidup dan tidak mencari istrinya adalah menyakitkan.
Ketika tsunami melanda daratan Jepang 11 tahun lalu, Istri Takamatsu sedang bekerja.
Sementara itu, Yoku Takamatsu terlibat dalam proses pembersihan puing-puing dari kerusakan gempa awal ketika tsunami menyapu.
Dalam pesan teks terakhir kepada suaminya, Yuko menulis: “Apakah kamu baik-baik saja? Saya ingin pulang ke rumah.”
Berbulan-bulan kemudian, teleponnya ditemukan dengan pesan yang tidak terkirim: “Tsunami menimbulkan malapetaka.”
Takamatsu, seorang sopir bus, sebelumnya mengatakan dia tidak menyelam secara spontan, tetapi pemikiran tentang istrinya telah “mendorongnya” ke dalam air.
“Saya memang ingin menemukannya, tetapi saya juga merasa bahwa dia mungkin tidak akan pernah ditemukan karena lautan terlalu luas --tetapi saya harus terus mencari,” ujarnya, sebagaimana dilansir Daily Mail pada Kamis (6/10/2022).
Selama setiap penyelaman, Takamatsu mengangkat tangki scuba diving di punggungnya, mengenakan pakaian karet, dan melangkah ke lautan yang membeku dengan bantuan instruktur selam, Masayoshi Takahashi.
Takahashi, yang memimpin penyelaman sukarelawan untuk mencari korban tsunami yang hilang, mengatakan bahwa menurutnya penting untuk membantu Takamatsu menemukan istrinya.
Takamatsu, yang tengah bersama ibu mertuanya di sebuah rumah sakit di kota tetangga pada saat itu, tidak diizinkan untuk kembali ke kota yang hancur, yang pada saat itu porak poranda dengan sisa-sisa bangunan, perahu nelayan, dan mobil.
Namun, ketika aturan pembatasan dicabut pada hari berikutnya, dia pergi ke rumah sakit Onagawa, yang terletak di puncak bukit, sebagai tempat evakuasi yang ditunjuk di mana ratusan orang telah melarikan diri segera setelah gempa besar.
Di sanalah dia mengetahui bahwa karyawan bank, termasuk istrinya, telah hanyut.
“Saya merasa lutut saya terkulai. Saya tidak merasakan apa-apa di tubuh saya," katanya.
Bencana tersebut, dengan kekuatan gempa 9,1 SR, adalah yang terburuk yang pernah melanda Jepang, dan yang paling dahsyat keempat dalam sejarah manusia. [gun]