WAHANANEWS.CO, Jakarta - Film horor komedi terbaru berjudul Ghost in the Cell resmi menyapa penonton di bioskop sejak Kamis, 16 April 2026.
Karya ini digarap oleh Joko Anwar yang tidak hanya duduk di kursi sutradara, tetapi juga menulis langsung skenario filmnya.
Baca Juga:
Dilema Cinta dan Uang, ‘Dopamin’ Sajikan Drama Rumah Tangga Penuh Ketegangan
Dengan gaya khasnya, ia kembali menghadirkan cerita horor yang berbeda dari pakem umum.
Film ini diproduseri oleh Tia Hasibuan dan melibatkan deretan aktor papan atas Tanah Air.
Sejumlah nama besar yang tampil antara lain Abimana Aryasatya, Aming, Arswendy Bening Swara, serta Bront Palarae.
Baca Juga:
Dilan ITB 1997, Cerita Baru tentang Cinta dan Gejolak Reformasi
Selain itu, film ini juga dibintangi oleh Danang Suryonegoro, Dewa Dayana, Endy Arfian, Yoga Pratama, dan Kiki Narendra.
Tak ketinggalan, turut meramaikan layar adalah Lukman Sardi, Morgan Oey, Rio Dewanto, hingga Tora Sudiro.
Diproduksi oleh Come and See Pictures, film ini menawarkan latar yang tidak biasa, yakni kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan.
Cerita berpusat di sebuah lapas bernama Labuhan Angsana, tempat para narapidana harus menjalani hari-hari penuh tekanan, intimidasi, serta ketidakadilan dari aparat maupun sesama penghuni penjara.
Ketegangan mulai meningkat ketika seorang tahanan baru masuk ke dalam lapas tersebut. Sejak saat itu, serangkaian kematian misterius mulai terjadi.
Para napi ditemukan tewas dengan cara yang tidak wajar dan mengerikan, memicu kepanikan di dalam penjara.
Teror tersebut kemudian dikaitkan dengan kemunculan sosok hantu misterius. Konon, makhluk itu hanya mengincar individu dengan aura atau energi paling negatif.
Kepercayaan ini membuat para narapidana berusaha mengubah perilaku mereka.
Mereka berlomba-lomba berbuat baik demi menjaga “aura” tetap positif agar terhindar dari maut.
Namun, perubahan tersebut bukan perkara mudah. Lingkungan lapas yang sarat kekerasan dan ketidakadilan justru menjadi tantangan besar.
Tekanan yang terus-menerus membuat emosi para napi sulit dikendalikan, sehingga konflik kerap tak terhindarkan.
Dalam situasi genting itu, para tahanan akhirnya menyadari satu hal penting untuk bertahan hidup.
Mereka harus bersatu, melawan penindasan yang ada, sekaligus menghadapi ancaman supranatural yang menghantui setiap sudut penjara.
Kehadiran para aktor berpengalaman membuat dinamika cerita terasa semakin kuat dan hidup.
Setiap karakter memiliki latar belakang serta konflik yang kompleks, sehingga menambah kedalaman narasi.
Ghost in the Cell tidak sekadar menyuguhkan ketegangan dan elemen horor.
Film ini juga menyoroti isu kemanusiaan, solidaritas, serta refleksi tentang moralitas dalam kondisi ekstrem.
Dengan premis yang unik dan pendekatan cerita yang segar, film ini menjadi salah satu tontonan horor komedi yang layak diperhitungkan di tahun ini.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]