WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kabar duka menyelimuti industri perfilman Tanah Air.
Salah satu sutradara senior Indonesia, Nayato Fio Nuala, dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu, 18 April 2026, dalam usia 58 tahun.
Baca Juga:
Sosok Setia di Balik Jenderal Hoegeng, Meri Hoegeng Berpulang
Informasi kepergian Nayato pertama kali beredar melalui media sosial, setelah sejumlah rekan artis dan pelaku industri film menyampaikan ucapan belasungkawa.
Sosok Nayato dikenal luas sebagai figur penting yang turut mewarnai perkembangan perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor yang cukup populer di kalangan penonton.
Bagi sejumlah aktor, kehadiran Nayato memiliki arti tersendiri dalam perjalanan karier mereka.
Baca Juga:
Ayah Venna Melinda Meninggal Dunia, Unggahan Video Call Terakhir Bikin Haru
Salah satunya dirasakan oleh Raffi Ahmad, yang mengenang jasa Nayato sebagai sutradara yang mendampingi dirinya pada masa awal merintis karier di dunia akting.
Dedikasi Nayato dalam membimbing para aktor muda menjadi salah satu warisan berharga yang kini dikenang.
Nayato Fio Nuala menghembuskan napas terakhirnya setelah puluhan tahun berkarya di industri hiburan.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus jejak panjang dalam dunia perfilman nasional.
Profil
Nayato Fio Nuala lahir di Bireuen, Aceh, pada 20 Februari 1968. Ia mulai menapaki dunia perfilman sejak pertengahan 1990-an dan dikenal sebagai sosok yang produktif dalam menghasilkan karya.
Kariernya di industri film dimulai pada tahun 1996. Sejak saat itu, ia aktif terlibat dalam berbagai proyek, baik sebagai sutradara maupun kreator di balik layar.
Kontribusinya tidak hanya memperkaya ragam film Indonesia, tetapi juga membuka ruang bagi sineas muda untuk berkembang.
Hingga akhir hayatnya pada 18 April 2026, Nayato telah meninggalkan banyak karya yang melekat di ingatan penonton.
Ia juga menjadi inspirasi bagi generasi baru untuk terus berinovasi dalam industri kreatif.
Perjalanan Karier
Sebelum dikenal sebagai sutradara ternama, Nayato sempat menempuh pendidikan di bidang seni perfilman di Taiwan.
Bekal tersebut kemudian membawanya mengawali karier sebagai sutradara iklan pada 1996.
Setahun kemudian, ia mulai merambah dunia sinetron dengan menyutradarai judul New Pondok Indah pada 1997.
Namun, namanya semakin dikenal luas setelah aktif menggarap film layar lebar.
Debutnya sebagai sutradara film terjadi pada 2003 melalui proyek The Soul, di mana ia juga terlibat sebagai sinematografer.
Sejak saat itu, kariernya terus menanjak dengan berbagai produksi film yang sebagian besar mengangkat tema horor dan misteri.
Pada 2006, Nayato yang juga dikenal dengan nama Koya Pagayo sempat meraih penghargaan Sutradara Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI).
Meski demikian, penghargaan tersebut sempat diiringi kontroversi yang turut menjadi sorotan publik saat itu.
Sepanjang kariernya, Nayato dikenal sebagai sutradara yang sangat identik dengan film-film bernuansa mistis.
Gaya penyutradaraannya yang khas menjadikannya salah satu figur berpengaruh dalam perkembangan genre horor di Indonesia.
Karya Film dan Sinetron
Dalam perjalanan kariernya, Nayato Fio Nuala juga menggunakan nama panggung Koya Pagayo.
Di bawah dua identitas tersebut, ia menghasilkan berbagai karya yang cukup dikenal luas.
Beberapa film yang pernah disutradarainya antara lain The Soul (2003), Ekskul (2006), Hantu Perawan Jeruk Purut (2008), Kereta Hantu Manggarai (2008), Virgin 2: Bukan Film Porno (2009), Pocong Jumat Kliwon (2010), Heart 2 Heart (2010), Tarung: City of The Darkness (2011), 7 Hari Menembus Waktu (2015), hingga Wengi: Anak Mayit (2018).
Selain itu, ia juga menggarap sejumlah film lain seperti Ada Hantu di Sekolah (2004), Panggil Namaku Tiga Kali (2005), 12:00 AM (2005), Hantu Jeruk Purut (2006), Lewat Tengah Malam (2007), Malam Jumat Kliwon (2007), Jeritan Kuntilanak (2009), Pocong Rumah Angker (2010), Te(Rekam) (2010), hingga Hantu Jeruk Purut Reborn (2017).
Di dunia sinetron, Nayato turut berkontribusi melalui sejumlah judul seperti New Pondok Indah (1997), Magic (2013), Enigma (2015), Sodrun Merayu Tuhan (2017–2018), Malaikat Cinta (2018), dan Cinta Misteri (2018).
Jenazah Nayato Fio Nuala rencananya akan disemayamkan di rumah duka Boen Tek Bio, Karawaci Ilir.
Prosesi ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada keluarga, sahabat, serta kerabat dekat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.
Kepergian Nayato menjadi kehilangan besar bagi industri film Indonesia, terutama bagi para pelaku seni yang pernah bekerja sama dan belajar darinya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]