WahanaNews.co | Perlu dicatat, untuk menjadi seorang prajurit TNI tidaklah semudah
membalik telapak tangan.
Kerja keras adalah hal wajib yang
harus dilakukan agar seseorang bisa menjadi bagian dari Tentara Nasional
Indonesia.
Baca Juga:
Israel Selidiki Kematian 3 Prajurit TNI di Lebanon, Salahkan Hizbullah
Meski berasal dari ujung timur
Indonesia, Lisbeth Duwith sama sekali tidak menunjukkan sisi kelemahannya
sebagai seorang perempuan.
Tekadnya yang kuat, membuat perempuan
asal Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, ini berhasil
menembus Sekolah Calon Bintara Korps Wanita TNI Angkatan Darat (Secaba Kowad).
Dikutip dari akun YouTube resmi TNI
Angkatan Darat, anak keempat dari enam bersaudara ini
berkeinginan untuk menjadi seorang prajurit, demi membantu perekonomian
keluarganya di Papua.
Baca Juga:
Komnas HAM Kejar Pemeriksaan 4 Anggota TNI di Kasus Air Keras Andrie Yunus
Oleh sebab itu, Lisbeth dengan ikhlas
menjalani pendidikan militernya di Secaba Kowad yang ditempuh lewat jalur
Otonomi Khusus (Otsus).
Tak main-main memang pendidikan
militer Secaba Kowad.
Meski seluruh siswanya adalah
wanita, namun perlakuan terhadap mereka sama seperti halnya kepada calon prajurit pria.
Apa yang dialami Lisbeth adalah
latihan ekstrem dopper. Seperti diketahui,
dopper adalah latihan yang sangat
berbahaya.
Sebab, pada saat siswa merangkak
dengan memegang senapan dan ransel lengkap, para instruktur menembakinya dengan
peluru tajam.
Hal ini jugalah yang harus
dirasakan oleh Lisbeth Duwith.
Lisbeth mengisahkan bahwa ia seperti
berada di antara hidup dan mati saat ditembaki peluru tajam dari atas oleh para
instruktur.
Sementara itu, Lisbeth sudah tidak
tahan lagi karena dadanya mengalami sakit luar biasa.
"Saya merasa takut
karena pertama dari atas itu benar-benar ditembak. Ini antara hidup dan mati.
Antara hidup dan mati karena mereka pakai amunisi
tajam. Di situ pas merayap dada saya sakit, saya agak ketinggalan di
belakang," ujar Lisbeth.
"Tetapi saya, dengan berusaha, saya harus bisa merayap. Itu saya
pegang senjata M16. Kita merayap itu, kita menggunakan senjata M16 dengan ransel
di belakang, sepatu, dan perlengkapan lengkap," katanya.
Di situlah peran seorang pembina
sangat berarti bagi Lisbeth.
Selain memberikan motivasi yang
membakar semangat, pembina pun mendatangi Lisbeth untuk membantunya merayap
hingga ke garis akhir.
"Itu saya merayap ketika dada
saya sudah sakit saya angkat senjata geser ke depan, saya merayap dengan
tangan. Karena itu amunisi (tajam) di atas, saya bilang, 'Ya
Tuhan saya hidup atau mati Tuhan'. Karena, amunisinya
di atas kepala saya," ucap Lisbeth, melanjutkan.
"Saya dengan merayap sudah tidak
sanggup, sampai pembina saya bilang, 'Ayo, ayo kamu pasti bisa!' Setelah itu, pembina saya datang untuk membantu saya. Dari situ saya berusaha
merayap, pembina saya membantu saya karena dada saya sudah terlalu sakit,"
katanya lagi.
Namun, setelah
berhasil mencapai garis akhir, ujian berikutnya pun sudah menunggu.
Lisbeth dan rekan-rekannya harus
menghindari ledakan granat yang memang sengaja dilemparkan oleh para
instruktur.
"Saya dibantu sama-sama dengan
pembina kita merayap sampai di depan. Puji Tuhan kita semua dalam satu
gelombang selamat, kemudian ketika turun itu dilempari granat lagi," ujar
Lisbeth. [dhn]