WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nama Profesor Pantur Silaban tetap hidup dalam sejarah fisika Indonesia sebagai ilmuwan kelahiran Sidikalang yang memilih jalan sunyi untuk menekuni teori besar Albert Einstein.
Bagi dunia akademik, Pantur bukan sekadar guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), melainkan salah satu penanda penting bahwa Indonesia pernah memiliki ilmuwan yang tekun menjaga nyala fisika teoretik di Tanah Air.
Baca Juga:
Salah Transfer Jangan Dibiarkan, Nasabah Perlu Siapkan Bukti dan Segera Lapor Bank
Pantur Silaban tutup usia di Rumah Sakit Santosa, Bandung, pada Senin (1/8/2022) silam.
Jenazahnya saat itu dikebumikan di San Diego Hills pada Rabu (3/8/2022).
Meski kepergiannya telah lama, kisah hidup Pantur Silaban tetap layak dikenang sebagai warisan intelektual bagi generasi ilmuwan Indonesia.
Baca Juga:
PLN Watch Apresiasi Darmawan Prasodjo, 60 Pembangkit Baru Dinilai Jadi Fondasi Energi Indonesia
Ketua Forum Guru Besar ITB, Freddy Permana Zen, yang juga pernah menjadi muridnya, mengenang Pantur sebagai ilmuwan yang konsisten, serius, sekaligus humoris.
“Dia baik orangnya,” kata Freddy.
Dalam ingatan para muridnya, Pantur bukan hanya sosok yang mengajarkan fisika, tetapi juga memberi teladan tentang ketekunan dalam menapaki bidang ilmu yang tidak populer.
Pantur Silaban lulus dari Jurusan Fisika ITB pada 1964.
Setelah itu, ia mengabdikan diri sebagai dosen di almamaternya.
Pada 1967, Pantur melanjutkan studi ke Syracuse University, New York, Amerika Serikat.
Di sana, ia mendalami teori Relativitas Umum, salah satu teori besar yang diperkenalkan Albert Einstein.
Pilihan itu bukan jalan mudah, terutama pada masa ketika belum banyak ilmuwan Indonesia menekuni bidang tersebut.
“Di Indonesia jarang yang menekuni bidang ini,” kata Freddy.
Menurut Freddy, Pantur Silaban kemudian dikenal sebagai doktor pertama di Indonesia yang secara khusus mendalami teori relativitas Einstein.
Relativitas Umum kerap memikat banyak orang karena nama besar Einstein, tetapi bidang ini tidak mudah dipelajari secara serius.
Freddy menyebut banyak orang tertarik pada teori relativitas umum Einstein, namun tidak banyak yang benar-benar mampu menekuninya dengan konsisten.
Di titik itulah Pantur Silaban meninggalkan jejak yang berbeda.
Ia memilih bertahan di ruang ilmu yang rumit, sunyi, dan menuntut kedalaman berpikir.
Bagi banyak kalangan akademik, konsistensi tersebut membuat Pantur layak ditempatkan sebagai salah satu teladan penting dalam sejarah sains Indonesia.
Pengabdian panjangnya dalam dunia fisika juga mendapat pengakuan nasional.
Pada 2009, Pantur Silaban menerima Achmad Bakrie Award di bidang sains.
Penghargaan itu menjadi penanda atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama fisika teoretik dan kajian Relativitas Umum di Indonesia.
Lebih dari sekadar penghargaan, warisan Pantur Silaban tersimpan dalam ingatan para murid, kolega, dan dunia akademik yang pernah disentuh oleh pemikirannya.
Ia dikenang sebagai profesor yang tekun, rendah hati, konsisten, dan mampu menjaga martabat ilmu pengetahuan tanpa banyak hiruk-pikuk.
Kisah Pantur Silaban menjadi pengingat bahwa nama besar seorang ilmuwan tidak selalu lahir dari sorotan publik, tetapi dari kesetiaan panjang pada ilmu yang ia yakini.
Dari Sidikalang hingga ruang-ruang akademik ITB, jejak Pantur Silaban tetap menjadi kisah abadi tentang keberanian intelektual, ketekunan, dan pengabdian pada sains.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]