WAHANANEWS.CO, Jakarta - Smartphone yang selama ini dianggap memudahkan hidup kini ikut disorot karena diduga berkaitan dengan makin sedikitnya bayi yang lahir.
Sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya korelasi kuat antara peningkatan penggunaan ponsel pintar dan penurunan angka kelahiran yang cukup tajam.
Baca Juga:
5 Aplikasi Edukasi Terbaik untuk Asah Otak dan Tambah Ilmu Lewat Smartphone
Makalah ilmiah yang diterbitkan Biro Riset Ekonomi Nasional atau NBER mencoba membedah penyebab merosotnya tingkat kesuburan di Amerika Serikat.
Hasil penelitian itu cukup mengejutkan karena angka kesuburan di Amerika Serikat disebut turun 22 persen sejak 2007.
Tahun 2007 juga menjadi momen penting karena iPhone pertama diperkenalkan ke publik dan menandai awal era smartphone modern.
Baca Juga:
Prediksi Elon Musk dan Zuckerberg Hp Segera Punah, Ini Penggantinya
Menurut studi tersebut, smartphone bukan berarti secara langsung menurunkan kesuburan biologis manusia.
Namun, penggunaan perangkat digital yang semakin intens disebut mengubah pola interaksi sosial secara besar-besaran.
Smartphone dinilai membuat pertemuan tatap muka berkurang, frekuensi hubungan seksual menurun, dan konsumsi hiburan daring meningkat.
Aktivitas digital itu kemudian dianggap menggantikan banyak aktivitas sosial di dunia nyata.
Untuk sementara waktu, para ahli sempat mengaitkan penurunan angka kelahiran dengan resesi besar pada 2008.
Saat itu, sistem keuangan global nyaris runtuh dan jutaan orang mengalami tekanan ekonomi berat.
Namun, ketika kondisi ekonomi mulai pulih, angka kelahiran ternyata tidak ikut kembali naik seperti yang diperkirakan.
Berbagai faktor lain juga sempat disebut sebagai penyebab, mulai dari meningkatnya penggunaan kontrasepsi, pendidikan perempuan yang makin tinggi, hingga mahalnya biaya perumahan dan perawatan anak.
Meski demikian, belum ada satu faktor pun yang benar-benar terbukti menjadi penyebab utama penurunan angka kelahiran tersebut.
Ekonom Middlebury College, Caitlin Myers, bersama mahasiswanya, Ezekiel Hooper, kemudian menguji dugaan bahwa kemunculan smartphone sejak peluncuran iPhone pertama pada 2007 mungkin ikut berperan dalam tren tersebut.
Hingga 2011, iPhone hanya tersedia melalui satu jaringan seluler di Amerika Serikat, yakni AT&T.
Kondisi itu membuat para peneliti membandingkan wilayah yang memiliki cakupan AT&T hampir menyeluruh dengan wilayah yang minim atau tidak memiliki cakupan sama sekali pada periode tersebut.
Hasilnya, akses terhadap iPhone berkorelasi dengan penurunan angka kelahiran sebesar 4,5 persen hingga 8,0 persen pada kelompok usia 15-19 tahun.
Pada kelompok usia 20-24 tahun, akses iPhone berkorelasi dengan penurunan angka kelahiran sebesar 3,2 persen hingga 6,6 persen.
Peneliti juga menemukan penurunan yang signifikan secara statistik pada perempuan berusia lebih tua, meski angkanya lebih kecil.
"Seiring dengan meluasnya penggunaan smartphone modern, waktu yang dihabiskan bersama teman secara langsung dan aktivitas seksual menurun tajam bersamaan dengan meningkatnya konsumsi pornografi, yang mungkin menjadi pengganti seks dengan pasangan," demikian kesimpulan penelitian tersebut.
Temuan itu memperkuat dugaan bahwa teknologi digital tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi.
Lebih jauh, smartphone juga diduga ikut mengubah cara manusia menjalin hubungan, membangun kedekatan, hingga membentuk keluarga.
Guncangan Teknologi
Studi lain yang diterbitkan pada Mei oleh ekonom Universitas Cincinnati, Nathan Hudson dan Hernan Moscoso Boedo, menemukan pola serupa dalam skala global sejak 2007.
Mereka menganalisis data Bank Dunia yang mengukur penetrasi smartphone dan tingkat kesuburan remaja di 128 negara.
Dari analisis tersebut, penurunan angka kelahiran disebut semakin cepat setelah smartphone tersedia secara luas.
Fenomena itu ditemukan di banyak negara dengan kondisi layanan kesehatan, kesejahteraan, ekonomi, dan budaya yang sangat berbeda.
Menurut para peneliti, pola tersebut menunjukkan adanya guncangan teknologi global yang sama-sama memengaruhi banyak negara.
Meski begitu, tidak semua akademisi langsung sepakat dengan kesimpulan tersebut.
Sebagian pihak tetap skeptis karena angka kelahiran remaja di Amerika Serikat sebenarnya telah menurun sejak awal 1990-an.
Penurunan itu terjadi jauh sebelum smartphone muncul dan digunakan secara luas.
Kedua studi tersebut juga tidak membahas secara khusus bagaimana pemerintah dapat memanfaatkan temuan tersebut dalam kebijakan publik.
Namun, isu penurunan angka kelahiran kini menjadi persoalan serius bagi banyak negara kaya maupun miskin.
Penurunan kelahiran membuat struktur masyarakat menua dan jumlah angkatan kerja menyusut.
Kondisi itu dapat memberi tekanan besar pada sistem jaminan sosial.
Dalam jangka panjang, penyusutan penduduk usia produktif juga berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi dan produktivitas.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC menyebut angka kesuburan Amerika Serikat berada pada titik terendah sepanjang masa.
Sementara itu, sejumlah negara ekonomi besar di Asia juga menghadapi prospek penyusutan populasi dalam beberapa tahun mendatang.
China telah meninggalkan kebijakan satu anak yang berlangsung selama beberapa dekade pada 2016.
Jepang dan Korea Selatan juga sudah menggelontorkan investasi besar untuk kebijakan prokelahiran, tetapi hasilnya masih terbatas.
Di sisi lain, negara-negara termiskin di dunia, termasuk sejumlah wilayah di Afrika sub-Sahara, masih memiliki angka kelahiran yang tinggi.
Namun, negara berpenghasilan menengah seperti India dan Brasil juga mulai menghadapi penurunan angka kesuburan yang cepat.
Temuan mengenai smartphone dan penurunan angka kelahiran pun menambah babak baru dalam perdebatan global tentang krisis demografi.
Dari benda kecil di genggaman, perubahan besar pada pola hidup manusia ternyata bisa menjalar hingga urusan keluarga, kelahiran, dan masa depan populasi dunia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]