WAHANANEWS.CO - Polisi mendalami dugaan perundungan atau bullying yang diduga menjadi latar belakang seorang pelajar berinisial R (17) membawa bom rakitan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat.
Penyelidikan dilakukan setelah remaja tersebut mengaku kerap menjadi korban bullying sejak masih duduk di bangku kelas II hingga akhirnya mempelajari cara merakit bom secara autodidak selama sekitar empat bulan.
Baca Juga:
Kronologi ASN BPN Nias Tewas Lompat dari Apartemen, Berawal dari Open BO hingga Dugaan Pemerasan
Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Susmelawati Rosya mengatakan berdasarkan pengakuan awal, terdapat satu orang yang diduga melakukan perundungan terhadap R, namun hal tersebut masih terus didalami penyidik.
“Kalau kemarin pengakuan awal ya ada beberapa ya kalau nggak salah, satu orang ya yang melakukan, mem-bully dia itu. Nanti didalami lagi ini,” ujar Susmelawati, Kamis (16/7/2026).
Selain itu, R juga mengaku telah mengalami perundungan sejak masih kecil, meski dilakukan oleh orang yang berbeda.
Baca Juga:
Diduga Terdesak Ekonomi, Pria Gendong Bayi Terciduk Hendak Curi Kosmetik
“Pengakuan di lapangan ada satu orang yang mem-bully. Tapi pernah juga kemarin itu ditanya di lapangan, dulu waktu kecil mengalami itu, mengalami di-bully, tapi tidak dengan anak yang sama ya. Kemudian, mulai dari kelas II, dia mulai mengalami bullying dari teman-teman sekelas,” tuturnya.
Polisi hingga kini masih mendalami bentuk perundungan yang dialami R dengan memeriksa berbagai pihak terkait.
“(Bentuk ejekan) ini belum diambil keterangan lebih lanjut, seperti apa pendalaman gitu kan, nanti akan didalami,” ungkapnya.
Dalam proses penyelidikan, polisi telah memeriksa 12 saksi yang terdiri dari guru, petugas keamanan sekolah, pelaku, serta sejumlah pihak lainnya yang mengetahui peristiwa tersebut.
“Iya, disampaikan Polresta bahwa sampai saat ini hari pertama pemeriksaan berjalan sudah 7 orang lebih fokus kepada guru-guru, kepada satpam yang ada di lokasi, yang ikut waktu kejadian. Kemudian, kepada si pelaku sendiri gitu, kemudian ada beberapa yang dipanggil, hari ini sudah menjadi 12 orang,” jelasnya.
“Seperti apa detailnya itu masih batas-batas itu saja dulu, yang paling terpenting itu masalah rehabilitasi pelaku, itu yang hasil koordinasi saya,” tambahnya.
Sebelumnya, polisi mengungkapkan bahwa R belajar merakit bom secara mandiri melalui YouTube, Instagram, dan internet selama kurang lebih empat bulan.
“Berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau autodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak dan itu sudah disampaikannya,” beber Susmelawati.
Polisi menegaskan hingga kini belum ditemukan adanya pihak lain yang mengajari R merakit bom.
“Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri sendiri,” ungkapnya.
Menurut pengakuan R, ia mulai mempelajari cara merakit bom sejak Ramadan atau sekitar April 2026 sebagai bentuk pelampiasan atas tekanan psikologis akibat perundungan yang dialaminya.
“(Belajar merakit) dari bulan Ramadan kemarin, berarti dari April, sampai sekarang. Karena si anak dari duduk kelas II dia sudah di-bully. Sekarang dia sudah kelas III. Sejak pertama duduk di kelas II, dia sudah di-bully sama teman-teman kelasnya,” tuturnya.
“Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam sehingga dia dari bulan Ramadan sudah belajar secara autodidak, kemudian melihat internet, melihat Instagram itu ia lakukan, itu ia akui sendiri,” tambahnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]