WAHANANEWS.CO, Jakarta - Duka mendalam menyelimuti Desa Sukasari setelah Tarsitem, kuwu atau kepala desa terpilih, meninggal dunia secara mendadak dalam perjalanan menuju RSUD Indramayu pada Jumat (2/1/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.
Ratusan warga bersama keluarga besar almarhumah memadati rumah duka yang berada tepat di depan Balai Desa Sukasari, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, untuk menyampaikan belasungkawa atas kepergian sosok yang belum sempat dilantik tersebut.
Baca Juga:
Upaya Preventif, PLN UP3 Indramayu Laksanakan Inspeksi Kelistrikan di Objek Vital Rumah Ibadah
“Kaget banget pas tahu kabar, saya tahu sekitar jam 11 dan langsung ke sini,” ujar Kasmin (50), warga setempat, melansir Kompas.
Masih menurut Kasmin, warga belum bisa menerima kenyataan karena suasana desa sebelumnya masih dipenuhi euforia kemenangan Tarsitem dalam Pemilihan Kuwu yang baru saja digelar.
Dalam Pilwu tersebut, Tarsitem berhasil mengungguli empat kandidat lain, termasuk kuwu petahana, namun takdir berkata lain sebelum ia resmi menjabat.
Baca Juga:
Sapu Pantura Demi Listrik Andal, PLN Indramayu Geber ROW Jelang Nataru 2025
“Kenangan yang paling saya inget itu waktu saya sakit, almarhumah ngasih uang untuk saya berobat,” tutur Kasmin.
“Jadi memang sudah dari dulu almarhumah itu orang yang baik,” lanjutnya.
“Kehilangan pasti, Mas, beliau itu orang yang baik,” ucap Udin (38), kerabat jauh almarhumah, Jumat (2/1/2026).
“Semoga almarhumah husnul khatimah, amin,” tambah Udin.
Penyebab pasti meninggalnya Tarsitem belum dapat dipastikan karena almarhumah mengembuskan napas terakhir sebelum sempat menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit.
Pihak RSUD Indramayu mencatat status meninggalnya Tarsitem sebagai Dead On Arrival (DOA) atau meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan.
“Hanya ada keterangan DOA saja,” kata Tarjono, perwakilan keluarga, Jumat (2/1/2026).
“Dari kami keluarga menduga penyebab meninggalnya mungkin karena kecapean,” lanjut Tarjono.
Menurut Tarjono, almarhumah tidak memiliki riwayat penyakit kronis yang serius.
Ia menjelaskan bahwa meski sempat beredar isu stroke ringan, hasil pemeriksaan medis sebelumnya menunjukkan kondisi Tarsitem baik dan hanya membutuhkan pemulihan.
Aktivitas padat selama tahapan Pilwu yang menguras tenaga diduga menjadi faktor menurunnya kondisi kesehatan hingga almarhumah pingsan pada pagi hari.
Tarsitem wafat di usia 46 tahun dan meninggalkan seorang suami serta tiga orang anak.
“Kami dari keluarga memohon apabila almarhumah ada kekhilafan mohon dimaafkan,” ujar Tarjono.
“Dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah datang mendoakan almarhumah,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]