WAHANANEWS.CO, Jakarta - Langit yang semula gelap mendadak berubah menjadi ancaman nyata ketika butiran es sebesar kelereng menghantam permukiman dan lahan pertanian warga di Kabupaten Aceh Tengah, memicu kepanikan sekaligus kerugian bagi petani setempat.
Peristiwa hujan es tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah kampung, dengan dampak terparah dirasakan di Kampung Bukit Sari, Kecamatan Jagong Jeget, serta Kampung Merah Muyang, Kecamatan Atu Lintang, pada Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga:
Capai 30.000 Meter Persegi, Lubang Raksasa Aceh Tengah Kian Menganga
“Cukup besar butiran esnya, ada yang hampir seukuran kelereng dan turun cukup deras,” ujar Rahmad Fauzi, warga setempat saat dihubungi.
Sebelum hujan es mengguyur, kondisi cuaca di wilayah tersebut menunjukkan tanda-tanda ekstrem, ditandai dengan langit mendung pekat, suara petir yang saling bersahutan, serta hembusan angin kencang yang datang tiba-tiba.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB dan berlangsung dalam durasi yang cukup untuk menimbulkan kerusakan pada berbagai sektor, terutama pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat.
Baca Juga:
Dana Tunggu Hunian Disalurkan, Pemerintah Percepat Pembangunan Huntara di Lhokseumawe
Akibat hujan es yang turun mendadak, tanaman warga mengalami kerusakan cukup parah, khususnya komoditas kopi yang menjadi andalan daerah tersebut.
“Bunga kopi yang hampir mekar rontok, begitu juga buah-buah kecil yang baru tumbuh banyak yang gugur akibat hantaman es,” kata Rahmad.
Tak hanya merusak daun dan buah, hujan es juga memicu stres pada tanaman yang berpotensi menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen ke depan.
Kondisi ini menjadi kekhawatiran serius bagi para petani, mengingat sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut sangat bergantung pada sektor pertanian, baik kopi maupun tanaman palawija lainnya.
“Kalau kejadian seperti ini sering terjadi, tentu hasil panen bisa menurun drastis dan berdampak pada ekonomi warga,” ucapnya.
Ia pun berharap fenomena cuaca ekstrem seperti ini tidak kembali terulang dalam waktu dekat agar stabilitas produksi pertanian tetap terjaga.
“Semoga ke depan tidak terjadi lagi, supaya hasil panen kami tetap baik dan ekonomi masyarakat tidak terganggu,” tuturnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]