WAHANANEWS.CO, Kota Depok--Perayaan Lebaran Depok 2026 dipastikan kembali digelar dengan menghadirkan beragam tradisi khas masyarakat Kota Depok. Memasuki tahun penyelenggaraan ke-8, agenda budaya ini akan berlangsung selama lima hari, mulai 5 hingga 9 Mei 2026.
Ketua Panitia Lebaran Depok, Hamzah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Baca Juga:
LSM Kota Depok Gelar Rekonsiliasi, Serukan Persatuan Pascapilkada Redam Friksi
“Ini bukan hanya seremoni. Lebaran Depok adalah wujud kecintaan kita terhadap tradisi yang menjadi identitas masyarakat Depok,” ujar Hamzah dalam keterangannya saat konferensi pers di Kantor PWI Kota Depok, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan tahun ini menjadi yang kedelapan sejak pertama kali diadakan, sekaligus menandai konsistensi masyarakat dan pemerintah dalam menjaga warisan budaya daerah.
Pelaksanaan kegiatan ini juga disebut memiliki dasar hukum yang jelas. Panitia dibentuk melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Depok, sehingga agenda tersebut menjadi bagian resmi dari kegiatan budaya daerah.
Baca Juga:
Sinyalemen IMB Lymo House 2 Grogol Ilegal, tidak Terdaftar di DPMPTSP Kota Depok
“Dengan adanya SK Wali Kota, ini menunjukkan bahwa pemerintah serius mendukung pelestarian tradisi lokal,” kata Hamzah.
Rangkaian acara akan diawali dengan tradisi ngubek empang pada 5 Mei 2026. Tradisi ini merupakan kegiatan menangkap ikan bersama di empang yang sebelumnya telah ditebar benih ikan selama beberapa bulan.
Ngubek empang akan digelar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Tapos, Cipayung, dan Sawangan.
“Dulu masyarakat Depok punya kebiasaan menanam ikan setelah Lebaran, lalu dipanen bersama. Tradisi itu yang kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Pada hari berikutnya, 6 Mei 2026, masyarakat akan melaksanakan tradisi nyuciin parabotan, yakni membersihkan peralatan rumah tangga sebagai simbol penyucian diri setelah Idul Fitri.
Selain itu, akan digelar pula pameran budaya Nusantara di kawasan Alun-alun Grand Depok City yang menampilkan beragam kekayaan tradisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Memasuki 7 Mei 2026, tradisi andilan turut dihadirkan, yakni kegiatan patungan warga untuk membeli kerbau yang kemudian disembelih bersama. Bersamaan dengan itu, tradisi nyedengin baju juga akan dikemas secara kreatif dalam bentuk peragaan busana yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat.
“Tradisi seperti andilan dan nyedengin baju mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial masyarakat Depok tempo dulu,” kata Hamzah.
Selama rangkaian acara, panitia juga akan menghadirkan pasar kaget serta beragam kuliner khas tempo dulu, seperti kue maleman dan selendang mayang.
“Dulu Lebaran di Depok dirayakan sederhana, tapi penuh kebersamaan. Itu yang ingin kita hadirkan kembali,” ujarnya.
Puncak acara akan berlangsung dengan kegiatan makan bersama sebagai simbol persatuan warga. Selain itu, tradisi rantangan—yakni mengantarkan makanan kepada orang tua atau sesepuh—juga kembali dihidupkan sebagai bentuk penghormatan lintas generasi.
Sebagai penutup, Pawai Budaya Nusantara akan digelar pada 9 Mei 2026 dengan menampilkan berbagai kesenian dari seluruh Indonesia. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Depok Rumah Kita” yang mencerminkan semangat kebersamaan dalam keberagaman.
Untuk menambah kemeriahan, panitia turut menghadirkan hiburan musik, termasuk penampilan grup musik Wali Band dan band dari PWI Kota Depok.
Menariknya, kegiatan Lebaran Depok 2026 untuk seni-budaya dan tradisi menggunakan APBD sedangkan, untuk pertunjukan artis-artis ibu kota seperti WALI Band tidak menggunakan APBD, melainkan didukung sepenuhnya oleh sponsor.
“Alhamdulillah, kegiatan kami didukung banyak pihak,” ungkap Hamzah.
Rangkaian Lebaran Depok juga berdekatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Depok pada 3 Mei 2026, yang direncanakan akan dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Selain sebagai ketua panitia, Hamzah yang juga anggota DPRD Kota Depok menilai pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah.
“Budaya adalah jati diri. Kalau tidak dijaga, Depok bisa kehilangan ruhnya sebagai kota yang punya sejarah,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pelaku usaha lokal dalam kegiatan tersebut. Selama acara berlangsung, berbagai produk UMKM akan dipamerkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“UMKM harus menjadi tuan rumah di kota sendiri. Lewat Lebaran Depok, kita dorong mereka untuk naik kelas,” pungkasnya.
[Redaktur: Hendrik I Raseukiy]
Koreksi:
Redaksi korekasi dan meminta maaf kepada narasumber Hamzah karena ada pemahaman dan pembuatan kalimat oleh Redaksi yang tidak sesuai dengan yang dimaksud pernyataan oleh narasumber. Dengan perbaikan ini, Redaksi telah melakukan hak koreksi.
Kalimat yang semestinya adalah: Menariknya, kegiatan Lebaran Depok 2026 untuk seni-budaya dan tradisi menggunakan APBD sedangkan, untuk pertunjukan artis-artis ibu kota seperti WALI Band tidak menggunakan APBD, melainkan didukung sepenuhnya oleh sponsor.
Kalimat yang kami tarik adalah: Menariknya, seluruh kegiatan Lebaran Depok 2026 tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan didukung sepenuhnya oleh sponsor.
Demikian pula, Redaksi menghapus kata Non-APBD di judul guna sesuai dengan hak koreksi ini.