WAHANANEWS.CO, Jakarta - Peluru masih bersarang di punggungnya, tetapi Guntur Sugoro (41) justru memilih pulang dari rumah sakit karena tak sanggup membayar biaya operasi yang disebut mencapai puluhan juta rupiah usai menjadi korban begal brutal di kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara.
Guntur yang bekerja sebagai satpam di salah satu dapur program makan bergizi gratis (MBG) di Kota Medan itu akhirnya keluar dari RS Pirngadi Medan pada Selasa (20/5/2026) malam setelah keluarganya kebingungan mencari biaya pengangkatan peluru senapan angin yang masih menancap di tubuh korban.
Baca Juga:
FOMO dan Overthinking Gegara Medsos? Waspada, Bisa Jadi Otak Sedang Kelelahan
“Abang saya sudah pulang hari Selasa malam karena memang gak punya uang untuk cabut peluru,” kata adik korban, Budi Kurniadi, Kamis (21/5/2026).
Menurut Budi, pihak keluarga sempat mencari informasi terkait tindakan operasi di rumah sakit lain karena prosedur operasi disebut tidak bisa dilakukan di RS Pirngadi.
Ia mengaku keluarga mendapat perkiraan biaya operasi mencapai sekitar Rp50 juta apabila tindakan dilakukan di rumah sakit swasta.
Baca Juga:
Bikin Merinding, 9 Benda di Rumah Ini Dipercaya Bisa Datangkan Sial dan Energi Negatif
“Kemarin sempat tanya-tanya, biayanya sekitar Rp50 juta, itupun di rumah sakit lain, bukan di Pirngadi,” ujarnya.
Meski biaya perawatan selama dirawat di rumah sakit ditanggung pemerintah, keluarga korban hingga kini masih belum memahami mekanisme agar operasi pengangkatan peluru bisa dilakukan menggunakan bantuan pembiayaan kesehatan.
“Kalau kemarin kami gak bayar, ditanggung pemerintah,” kata Budi.
Saat ini kondisi Guntur disebut masih lemah dan belum bisa kembali bekerja seperti biasa karena rasa sakit di bagian punggungnya masih sering muncul.
Peluru yang bersarang di dekat tulang rusuk membuat napas korban terkadang sesak dan gerak tubuhnya menjadi terbatas.
Sebelumnya, Guntur menjadi korban percobaan perampokan saat melintas di Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, pada Senin (11/5/2026) sekitar pukul 23.30 WIB.
Kala itu, ia sedang mengendarai sepeda motor menuju rumah rekannya sebelum tiba-tiba dipepet sejumlah pelaku yang diduga hendak membegal korban.
“Pas sudah masuk jalan tumbukan, langsung di stop dan dipepet sama dua kereta, lima orang, disuruh berhenti,” kata Guntur saat ditemui pada Selasa (19/5/2026).
Korban mengaku menolak menyerahkan sepeda motornya dan memilih mencoba melarikan diri karena yakin dirinya sedang menjadi target pembegalan.
“Tapi, saya merasa saya ini pasti mau dibegal,” ujarnya.
Melihat korban tetap melaju, para pelaku langsung menyerang menggunakan senjata tajam dan membacok bagian belakang tubuh Guntur.
“Nah, mulailah dia bacok belakang punggung saya,” katanya.
Meski terluka akibat sabetan senjata tajam, Guntur tetap memacu sepeda motornya untuk menyelamatkan diri dari kejaran para pelaku.
Tak berhenti sampai di situ, salah satu pelaku kemudian mengeluarkan senjata yang diduga senapan angin lalu menembakkan peluru ke arah korban.
Akibat tembakan tersebut, peluru bersarang di bagian punggung belakang Guntur hingga kini belum berhasil diangkat.
“Mungkin pas dibacok ditengok enggak luka, dan dia bilang ‘Eh, enggak apa-apa dia, bang, tembak dia, Bang,’” tutur Guntur menirukan ucapan para pelaku.
Selama sembilan hari menjalani perawatan, Guntur mengaku hanya mendapat tindakan perban tanpa operasi pengangkatan peluru karena terkendala biaya.
Ia juga menyebut BPJS tidak bisa langsung digunakan sehingga dirinya kini berupaya mengurus surat keterangan miskin agar bisa memperoleh bantuan medis.
“Saya penjaga MBG, baru dua bulanan gitu lah,” kata Guntur.
Korban mengaku penghasilannya sebagai satpam tidak cukup untuk membayar operasi dengan biaya puluhan juta rupiah.
“Peluru belum diambil, cuma di perban gitu aja, gak berlaku BPJS juga kan, makannya ini lagi buat surat miskin,” ujarnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]