WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Togar Mangihut Simatupang, menerima kunjungan resmi delegasi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Kantor Kemdiktisaintek, Selasa (10/2/2026).
Delegasi tersebut dipimpin oleh Deputy Director I (Academic and Programme Extension) UKM, Kamarul Baraini Keliwon.
Baca Juga:
Sikat Tiga Unit HP Milik Tamu Saat Dicas di Penginapan,Pelaku Dijemput Polisi Dari Rumahnya Tengah Malam
Pertemuan bilateral ini menjadi forum strategis untuk menjajaki peluang kolaborasi akademik antara Indonesia dan Malaysia.
Fokus utama pembahasan meliputi pengembangan program sarjana dan pascasarjana berbasis Open and Distance Learning (ODL) atau Pendidikan Jarak Jauh Lintas Negara, serta penguatan jejaring kerja sama antarperguruan tinggi kedua negara.
Dalam sambutannya, Sesjen Togar menyampaikan apresiasi atas langkah UKM yang dinilai konsisten dalam mendorong inovasi pembelajaran digital serta memperluas internasionalisasi pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:
Buka Musrenbang RKPD di Kecamatan Tigabinanga,Wabup Karo:Usulan Program Memiliki Dampak Bagi masyarakat
“ODL adalah wadah baru, sarana baru bukan hanya untuk menjangkau mahasiswa kita, tetapi juga untuk mendidik masyarakat dengan cara yang fleksibel,” ujar Sesjen Togar.
Ia menegaskan bahwa pada prinsipnya Indonesia terbuka terhadap pengembangan pendidikan jarak jauh lintas negara.
Pemerintah, lanjutnya, telah memiliki kerangka regulasi yang mengakui sistem pembelajaran jarak jauh sebagai bagian integral dari sistem pendidikan tinggi nasional, selama tetap memenuhi standar mutu, akreditasi, dan kesetaraan capaian pembelajaran yang ditetapkan.
Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menjelaskan bahwa pengakuan terhadap kualifikasi lulusan luar negeri termasuk melalui skema ODL dilakukan melalui mekanisme penyetaraan ijazah yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Mekanisme ini penting untuk memastikan kesesuaian jenjang pendidikan, mutu proses pembelajaran, serta rekognisi akademik di Indonesia.
Selain aspek regulasi dan penjaminan mutu, Kemdiktisaintek juga mendorong implementasi ODL dilakukan melalui kemitraan institusional dengan perguruan tinggi dalam negeri.
Skema ini diharapkan memberikan nilai tambah yang lebih luas, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi mahasiswa dan lulusan, termasuk membuka peluang karier di tingkat regional ASEAN.
Bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain program joint degree, dual degree, penyusunan kurikulum bersama, hingga pengembangan micro-credential yang relevan dengan kebutuhan industri.
Pendekatan kolaboratif ini dipandang strategis agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar pendidikan global, melainkan berperan aktif sebagai mitra setara dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi regional.
Menutup agenda pertemuan, Sesjen Kemdiktisaintek kembali menekankan pentingnya mengaitkan kerja sama pendidikan tinggi dengan mobilitas talenta dan kebutuhan pasar kerja kawasan.
Hal tersebut sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang mengarahkan kerja sama internasional untuk menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan daya saing lulusan, serta kontribusi konkret bagi pembangunan nasional dan kawasan.
Diskusi berlangsung konstruktif dengan pembahasan lanjutan mengenai standar mutu ODL, mekanisme pengakuan akademik, peluang riset kolaboratif, hingga pengembangan program bersama Indonesia–Malaysia.
Saat ini, UKM tercatat telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Semarang (Unes), dan beberapa institusi lainnya, mencakup pertukaran akademik, riset bersama, hingga pelaksanaan program kolaboratif.
Kemdiktisaintek berharap penjajakan ini menjadi langkah awal menuju kemitraan strategis pendidikan tinggi ASEAN yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata, khususnya dalam memperluas akses pendidikan tinggi bermutu melalui transformasi digital dan inovasi pembelajaran lintas negara.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]