WAHANANEWS.CO - Para guru Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), Keuskupan Agung Merauke diajak menggali kembali esensi pendidikan melalui perspektif filsafat dalam sebuah seminar yang membahas implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam proses belajar-mengajar.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Frits H. Pangemanan, M.Sc, pemateri yang juga Pengamat Sosial dan Pendidikan dalam Seminar AI dan Filsafat Pendidikan di Gereja Katedral Merauke, Provinsi Papua Selatan pada beberapa waktu lalu.
Baca Juga:
Cegah Radikalisme: Ken Setiawan Usulkan Filsafat Jadi Mata Pelajaran di Sekolah dan Pesantren
Seminar yang dihadiri sebanyak 52 perwakilan persekolahan PAUD, SD, SMP hingga SMA di bawah YPPK, Keuskupan Agung Merauke itu, Frits mengaitkan konsep Pembelajaran mendalam dengan pemikiran tiga filsuf Yunani, yakni Sokrates, Plato, dan Aristoteles, yang dinilai masih relevan sebagai fondasi pendidikan hingga saat ini.
Pembahasan juga diperkaya pemikiran tokoh pendidikan modern seperti Maria Montessori, John Dewey, dan Alfred N. Whitehead. Materi tersebut diselaraskan dengan kebijakan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses Pembelajaran Mendalam.
Frits menjelaskan, terdapat lima aspek mendasar dalam pendidikan yang perlu dipahami pendidik.
Baca Juga:
Resmi Jadi Uskup Keuskupan Timika, Ini Profil Pastor Bernardus Bofitwos Baru, OSA
Kelima aspek itu meliputi identitas dan misi guru, metode pembelajaran, perangkat atau teknik pembelajaran, hakikat pendidikan, serta paradigma yang menjadi landasan berpikir seorang pendidik.
Dalam pemikiran Sokrates, guru dianalogikan sebagai “bidan” yang membantu melahirkan pengetahuan melalui dialog. Proses pembelajaran tidak sekadar memberikan informasi, tetapi mendorong peserta didik berpikir kritis dan mengenali dirinya.
Sementara Plato memandang guru sebagai pembawa pencerahan. Melalui gagasan alegori gua, pendidikan digambarkan sebagai proses membawa peserta didik dari ketidaktahuan menuju pemahaman terhadap realitas yang lebih mendalam.