Adapun Aristoteles menempatkan guru sebagai pembimbing perkembangan nalar dan moral peserta didik. Melalui konsep eudaimonia dan phronesis, pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki kebijaksanaan praktis serta mampu membedakan dan menjalankan hal yang baik dan benar.
Menurut Frits, ketiga pemikiran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih luas daripada sekadar transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan proses membentuk manusia secara utuh, baik dari aspek intelektual, karakter, moral maupun pengenalan diri.
Baca Juga:
Cegah Radikalisme: Ken Setiawan Usulkan Filsafat Jadi Mata Pelajaran di Sekolah dan Pesantren
Dalam seminar tersebut, para guru juga merefleksikan profesinya sebagai “kurikulum hidup”, saksi iman, dan inspirator moral bagi peserta didik. Peran guru dinilai tetap strategis dalam membentuk generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.
Peserta didik kini memiliki akses terhadap sumber pengetahuan yang semakin luas sehingga guru dituntut terus meningkatkan kompetensi dan penguasaan ilmu.
Baca Juga:
Resmi Jadi Uskup Keuskupan Timika, Ini Profil Pastor Bernardus Bofitwos Baru, OSA
Karena itu, penerapan Pembelajaran Mendalam tidak hanya membutuhkan perubahan metode mengajar, tetapi juga perubahan paradigma pendidik. Guru dituntut menjadi fasilitator, pembimbing, sekaligus teladan yang membantu siswa mengolah pengetahuan secara kritis, bermakna, dan bertanggung jawab.
Seminar tersebut menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan semakin luasnya sumber informasi, guru tetap memiliki posisi penting dalam mengarahkan peserta didik menuju pembentukan pengetahuan, karakter, dan keutuhan diri.