WAHANANEWS.CO, Kota Bandung – Isu perubahan iklim yang kian mengancam kehidupan masyarakat global ternyata memiliki dampak yang tidak sama bagi setiap kelompok. Perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak, namun kerap kurang mendapat perhatian dalam perumusan kebijakan iklim.
Berdasarkan persoalan tersebut, dua mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UPER), Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea, berhasil mencuri perhatian dalam ajang Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 di Bandung.
Baca Juga:
Eropa Barat Diterjang Gelombang Panas Ekstrem, PBB Sebut Iklim Makin Buruk
Keduanya sukses meraih Juara I kategori Chamber Policy Brief setelah menyisihkan 31 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui karya berjudul “Mendayung Bersama di Lautan yang Sama: Kerja Sama Selatan-Selatan Indonesia–Pasifik dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Berperspektif Gender.”
Dalam karya tersebut, Zeffanya dan Paskarina menawarkan konsep Indonesia-Pacific Climate and Gender Partnership (IPCGP), sebuah model kemitraan yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan negara-negara Pasifik dalam menghadapi dampak perubahan iklim dengan pendekatan yang lebih inklusif terhadap perempuan.
Pelajar yang menjuarai ajang Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026. Dua mahasiswi Bandung. Dua meahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UPER), Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea (tengah) berhasil menjuarai ajang ini, Senin (22/6/2026). [WAHANANEWS.CO / Humas UPER]
Baca Juga:
Alarm Krisis Energi Global: Universitas Pertamina Cetak SDM Hybrid Hadapi Masa Mendatang
Gagasan tersebut dilandasi kesamaan karakter Indonesia dan negara-negara Pasifik sebagai wilayah kepulauan yang sama-sama menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, kerusakan ekosistem pesisir, hingga risiko sosial-ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Menurut Zeffanya, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan iklim karena kedekatan mereka dengan komunitas serta pengalaman langsung menghadapi dampak perubahan lingkungan.
“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kedekatan mereka dengan komunitas. Perspektif tersebut perlu hadir sejak proses perencanaan hingga pengambilan keputusan agar kebijakan iklim menjadi lebih inklusif dan efektif,” ujar Zeffanya.