WAHANANEWS.CO, Jakarta - Token listrik sering dituding lebih boros, padahal penyebab utamanya justru bisa datang dari kebiasaan pemakaian perangkat elektronik di rumah.
Layanan listrik rumah tangga di Indonesia umumnya terbagi dalam dua sistem, yakni listrik prabayar atau token listrik dan listrik pascabayar.
Baca Juga:
Dukung Pendidikan Digital, PLN Kalselteng Latih 30 Guru Madrasah di HST
Keduanya memiliki perbedaan utama pada cara pembayaran, bukan pada cara listrik dihitung atau besaran energi yang digunakan pelanggan.
Listrik prabayar merupakan sistem yang mengharuskan pelanggan membeli token atau pulsa listrik terlebih dahulu sebelum energi listrik dapat digunakan.
Sementara itu, listrik pascabayar merupakan sistem konvensional yang memungkinkan pelanggan memakai listrik selama satu bulan lebih dulu, kemudian membayar tagihan berdasarkan pemakaian yang tercatat.
Baca Juga:
Tingkatkan Kompetensi Guru, PLN Kalselteng Dorong Digitalisasi Madrasah di HST
Meski sama-sama digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, listrik prabayar dan pascabayar masih kerap dibandingkan oleh masyarakat.
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah token listrik dianggap lebih cepat habis dan lebih boros dibandingkan meteran pascabayar.
Pertanyaan tersebut kerap muncul di tengah masyarakat, terutama ketika pelanggan merasa nilai token yang dibeli tidak bertahan lama.
Manajer Komunikasi, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari, menegaskan sistem pembayaran listrik tidak menentukan boros atau hematnya pemakaian listrik pelanggan.
“Terkait anggapan bahwa listrik prabayar atau token lebih boros dibandingkan listrik pascabayar, perlu kami sampaikan bahwa hal tersebut tidak benar,” ujar Dana, beberapa waktu lalu.
Dana menjelaskan pelanggan prabayar maupun pascabayar sama-sama menggunakan satuan pengukuran listrik berupa kilowatt hour atau kWh.
Tarif listrik juga ditentukan berdasarkan golongan tarif dan daya pelanggan, bukan berdasarkan sistem pembayaran yang digunakan.
“Perbedaan prabayar dan pascabayar hanya terletak pada waktu pembayaran,” jelas Dana.
Dalam sistem prabayar, pelanggan membeli kWh terlebih dahulu melalui token, lalu menggunakan listrik sesuai kebutuhan di rumah.
Sementara pada sistem pascabayar, pelanggan memakai listrik lebih dulu dan membayar tagihan pada akhir bulan sesuai jumlah pemakaian yang tercatat pada meter.
Dana menyebut token listrik yang terasa cepat habis umumnya berkaitan dengan pola konsumsi listrik, bukan karena sistem prabayar lebih boros.
“Karena itu, apabila pelanggan merasa token listrik lebih cepat habis, umumnya hal tersebut berkaitan dengan pola konsumsi listrik, bukan karena sistem prabayar lebih boros,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah perangkat elektronik berdaya besar dapat membuat konsumsi listrik meningkat apabila digunakan dalam waktu lama atau menyala bersamaan.
Perangkat tersebut antara lain AC, pompa air, rice cooker, dispenser, kulkas, setrika, mesin cuci, hingga peralatan elektronik yang menyala terus-menerus.
Dana menilai listrik prabayar justru dapat membantu pelanggan memantau pemakaian listrik harian karena sisa kWh dapat langsung terlihat pada meter.
Pada listrik pascabayar, jumlah pemakaian biasanya baru diketahui setelah tagihan bulanan diterbitkan.
“Kami mengimbau pelanggan untuk rutin mengecek pemakaian listrik, menggunakan peralatan elektronik secara bijak, dan memastikan instalasi listrik dalam kondisi baik,” ujarnya.
PLN juga membuka kanal pengaduan apabila pelanggan merasa pemakaian listrik di rumah tidak wajar atau berbeda dari pola penggunaan biasanya.
“Apabila pelanggan merasa pemakaian tidak wajar, silakan melapor melalui aplikasi PLN Mobile atau Contact Center PLN 123 agar dapat dilakukan pengecekan lebih lanjut,” tambahnya.
Dengan demikian, besar kecilnya tagihan listrik ditentukan oleh jumlah kWh yang digunakan, golongan tarif, daya tersambung, serta pola penggunaan listrik pelanggan.
Sistem prabayar atau pascabayar hanya membedakan waktu pembayaran, bukan membuat listrik menjadi lebih boros atau lebih hemat.
Pelanggan juga dapat mengecek perangkat elektronik yang paling banyak menyedot daya listrik melalui fitur tertentu pada meteran listrik prabayar.
Salah satu kode yang dapat digunakan adalah kode 09, yang berfungsi menampilkan daya sesaat atau instantaneous power dalam satuan Watt secara real-time.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan angka yang muncul pada layar meter menunjukkan total daya yang sedang dipakai saat itu.
“Nilai yang muncul menunjukkan total daya listrik yang sedang digunakan pelanggan pada saat itu secara real-time,” kata Gregorius, Kamis (14/5/2026).
Untuk mengetahui konsumsi daya masing-masing perangkat elektronik, pelanggan dapat melakukan pengecekan sederhana dengan menyalakan satu perangkat yang ingin diuji.
Perangkat elektronik lain sebaiknya dimatikan terlebih dahulu agar hasil pengukuran tidak tercampur dengan konsumsi daya dari alat lain.
Setelah itu, pelanggan dapat menekan kode 09 lalu Enter pada meteran listrik prabayar.
Angka yang muncul pada layar meter kemudian dapat dicatat sebagai gambaran daya yang sedang digunakan perangkat tersebut.
Langkah yang sama dapat diulang pada perangkat elektronik lain apabila pelanggan ingin membandingkan konsumsi daya masing-masing alat.
Sebagai contoh, apabila setelah menekan kode 09 muncul angka 510 pada layar meter, maka daya listrik yang sedang digunakan saat itu sebesar 510 Watt.
Semakin banyak perangkat elektronik menyala bersamaan, semakin besar pula angka konsumsi daya yang tampil pada meter listrik.
Gregorius juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan kode meter listrik yang beredar di media sosial.
“PLN pun mengimbau masyarakat untuk bijak dalam menggunakan maupun menyebarkan informasi terkait kode-kode pada meter listrik yang beredar di media sosial,” jelas Gregorius.
Menurutnya, penggunaan kode tertentu secara sembarangan dapat berpotensi memengaruhi fungsi meter hingga menimbulkan gangguan.
“Apabila membutuhkan informasi lebih lanjut, pelanggan dapat menghubungi Contact Center PLN 123 atau melalui aplikasi PLN Mobile,” pungkasnya.
[Redaktur: Sandy]