WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menyalanya listrik di kawasan Rumah Hunian Sementara (Huntara) Aceh Tamiang menandai babak baru pemulihan pascabencana.
Bagi warga terdampak banjir bandang dan longsor, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan penanda bahwa fase darurat perlahan ditinggalkan dan kehidupan mulai kembali normal.
Baca Juga:
Energi Bersih 510 MW untuk Pertumbuhan Ekonomi, ALPERKLINAS Dorong Optimalisasi PLTA Batang Toru
PT PLN (Persero) memastikan seluruh unit Huntara yang telah berdiri di Aceh Tamiang sudah tersambung listrik, termasuk penerangan fasilitas umum di kawasan hunian.
Dengan listrik yang menyala, kawasan Huntara tidak lagi identik dengan kamp pengungsian, tetapi mulai berfungsi sebagai ruang hidup yang layak.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa kehadiran listrik menjadi kebutuhan dasar agar warga dapat kembali beraktivitas secara aman dan nyaman.
Baca Juga:
Sinergi PLN Sumedang Bersama BPBD dan Dinas Perhubungan, Cegah Potensi Bahaya Bagi Masyarakat
“Setiap unit hunian yang telah selesai dibangun, kami pastikan listriknya sudah tersedia dan langsung menyala. Masyarakat bisa segera menempatinya,” ujar Darmawan dalam keterangan, Jumat (2/1/2026).
Sebelumnya, ratusan keluarga terdampak bencana di Aceh Tamiang harus hidup dalam kondisi serba terbatas, tanpa rumah tetap dan tanpa akses listrik. Aktivitas sehari-hari terhambat, termasuk belajar anak-anak dan kegiatan ekonomi keluarga.
Kini, Huntara menjadi titik balik pemulihan. Selain hunian, kebutuhan dasar lain seperti air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan juga disiapkan secara bertahap agar warga tidak kembali berada dalam situasi darurat.
Pembangunan Huntara ini merupakan hasil sinergi Danantara Indonesia, BUMN, kementerian terkait, dan pemerintah daerah. Presiden RI Prabowo Subianto mengapresiasi progres pembangunan yang dinilainya cepat dan solid.
“Danantara Indonesia membuktikan bahwa kita bisa membangun 600 hunian dengan cepat. Semua pihak bekerja dengan gemilang,” kata Prabowo.
Sebanyak 600 unit Huntara dijadwalkan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang pada 8 Januari 2026, sebelum ditempati oleh warga terdampak bencana.
Hunian tersebut diharapkan menjadi jembatan menuju rumah permanen dan pemulihan ekonomi masyarakat.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut pembangunan Huntara di Aceh Tamiang berjalan sesuai target yang ditetapkan sejak awal.
Menurutnya, kualitas bangunan dan keberlanjutan menjadi perhatian utama agar hunian sementara benar-benar memberi manfaat jangka menengah bagi warga.
“Huntara bukan hanya solusi sementara, melainkan jembatan menuju hunian permanen dan pemulihan ekonomi masyarakat,” ujar Rosan.
PLN bersama Danantara juga terus memantau kondisi di lapangan. Darmawan menambahkan, listrik yang stabil di kawasan Huntara diharapkan dapat mengembalikan rasa aman serta mendorong aktivitas sosial dan ekonomi warga pascabencana.
“Anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman, keluarga beraktivitas dengan layak. Ini komitmen kami untuk terus hadir bersama masyarakat,” pungkas Darmawan.
[Redaktur: Sandy]